WartaNuswantara.com – Setiap tanggal 12 Mei datang, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bagi sebagian orang, tanggal itu mungkin hanya bagian dari lembar sejarah reformasi Indonesia. Namun bagi saya, 12 Mei adalah dua peristiwa yang bertabrakan dalam satu waktu: hari kelahiran dan hari duka bangsa.
Ironisnya, tepat 13 tahun sebelum tragedi berdarah di Universitas Trisakti terjadi, saya dilahirkan. Seharusnya tanggal kelahiran identik dengan kebahagiaan, doa, dan rasa syukur. Tetapi sejak tragedi 1998 itu terjadi, setiap datang ulang tahun, suasana hati justru berubah menjadi penuh kesedihan.
Saat tragedi Trisakti pecah, usia saya memang masih 13 tahun. Terlalu muda untuk memahami rumitnya politik dan kekuasaan. Namun suasana ketakutan, kepanikan, dan kesedihan pada masa itu masih membekas kuat hingga sekarang. Saya masih ingat bagaimana berita kematian mahasiswa memenuhi layar televisi, bagaimana orang-orang berbicara dengan nada cemas, dan bagaimana bangsa ini seperti kehilangan arah.
Empat mahasiswa gugur ketika menyuarakan perubahan. Mereka datang membawa semangat reformasi, tetapi pulang dalam keadaan tak bernyawa. Peristiwa itu bukan sekadar tragedi kampus, melainkan luka kemanusiaan yang meninggalkan bekas panjang bagi Indonesia.
Sejak saat itu, tanggal 12 Mei bagi saya tak pernah benar-benar menjadi hari ulang tahun yang utuh. Tiup lilin yang seharusnya menjadi tanda bahagia sering berubah menjadi tetes air mata. Ada rasa sesak setiap mengingat bahwa di tanggal yang sama, pernah ada anak-anak muda yang kehilangan masa depan karena keberanian mereka menyuarakan keadilan.
Yang membuat luka itu terasa semakin dalam adalah kenyataan bahwa hingga hari ini, keadilan masih terasa jauh. Pemimpin negeri sudah berganti-ganti. Presiden datang dan pergi membawa janji penegakan hukum dan penghormatan hak asasi manusia. Namun publik masih terus bertanya: mengapa pelaku tragedi kemanusiaan masa lalu belum juga benar-benar diadili?
Bangsa ini seolah berjalan maju secara politik, tetapi tertatih dalam keberanian menghadapi masa lalunya sendiri. Setiap pergantian kekuasaan selalu membawa harapan baru, tetapi harapan itu perlahan memudar ketika penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat kembali menguap dalam wacana.
Bagi keluarga korban, bagi mereka yang mengalami langsung suasana kelam reformasi, luka itu tidak pernah selesai. Dan bagi saya pribadi, setiap 12 Mei selalu menjadi pengingat bahwa ada sejarah bangsa yang belum benar-benar dituntaskan.
Tragedi Trisakti seharusnya menjadi alarm agar negara tidak lagi menggunakan kekerasan terhadap suara rakyat. Demokrasi tidak boleh berdiri di atas darah anak muda yang memperjuangkan perubahan. Karena ketika sejarah kelam dibiarkan tanpa kejelasan, bangsa ini sesungguhnya sedang membiarkan luka itu diwariskan dari generasi ke generasi.
Mungkin itulah alasan mengapa setiap 12 Mei, saya tidak hanya merayakan bertambahnya usia. Saya juga mengenang sebuah tragedi yang mengubah cara saya memandang negeri ini. Sebuah tanggal yang seharusnya penuh kebahagiaan, tetapi selamanya akan membawa duka dalam ingatan.
Semoga bangsa ini tidak kembali mundur pada masa-masa kelam penuh kesewenang-wenangan yang pernah terjadi. Sejarah reformasi seharusnya menjadi pelajaran bahwa kekuasaan tanpa kontrol dapat melahirkan ketakutan dan penderitaan bagi rakyatnya sendiri. Masyarakat patut waspada ketika arah kekuasaan mulai tidak menentu, ketika kritik dianggap ancaman, dan ketika suara rakyat perlahan dibungkam. Sebab bangsa yang melupakan sejarahnya, sering kali tanpa sadar sedang berjalan menuju luka yang sama.
ditulis oleh: Mas Je
Founder Media online WartaNuswantara.com
















