Oleh:
Dr. Andi Azikin, M.Si. Associate Professor Fakultas Politik Pemerintahan IPDN
Pendahuluan
Perkembangan geopolitik internasional saat ini memperlihatkan bahwa bentuk peperangan telah mengalami perubahan besar. Konflik antarnegara tidak lagi hanya berlangsung melalui kekuatan senjata di medan tempur, melainkan juga melalui tekanan ekonomi, serangan siber, perebutan pengaruh informasi, hingga pembentukan opini publik global. Ketegangan yang terus muncul di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia, menjadi contoh nyata bagaimana satu insiden kecil dapat memicu dampak global berupa kenaikan harga minyak, terganggunya rantai pasok internasional, serta ketidakstabilan ekonomi berbagai negara.
Dalam situasi seperti ini, konsep bela negara kembali memperoleh makna strategis. Bela negara tidak cukup dipahami sebagai simbol patriotisme atau kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi bagian dari sistem ketahanan nasional yang mampu menyatukan kekuatan negara, masyarakat, serta arah ideologi kebangsaan. Di era ancaman multidimensi, kemampuan bertahan sebuah negara sangat ditentukan oleh kesiapan kolektif seluruh elemen bangsa menghadapi tekanan geopolitik modern.
Salah satu negara yang kerap menjadi perhatian dalam pembahasan ketahanan nasional adalah Iran. Negara tersebut menarik untuk dikaji bukan semata karena kekuatan militernya, melainkan karena kemampuannya bertahan di tengah tekanan ekonomi, isolasi diplomatik, dan ancaman keamanan yang berlangsung dalam jangka panjang.
Iran di Tengah Tekanan Internasional
Pasca Revolusi 1979, Iran menghadapi hubungan yang penuh ketegangan dengan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat. Kondisi tersebut membuat Iran harus menjalani berbagai sanksi ekonomi, pembatasan akses teknologi, hingga tekanan politik internasional selama beberapa dekade.
Meski demikian, Iran tetap mampu mempertahankan eksistensinya sebagai negara yang stabil. Dalam keterbatasan, Iran justru membangun model pertahanan yang adaptif dan berbeda dari negara lain. Berbagai kajian pertahanan internasional mencatat bahwa Iran berhasil mengembangkan kemampuan di bidang rudal balistik, teknologi drone, perang siber, serta jaringan pengaruh kawasan melalui kelompok-kelompok sekutu regional.
Menariknya, Iran tidak berusaha menyaingi kekuatan militer negara-negara besar secara frontal. Mereka memilih pendekatan asimetris, yakni strategi yang bertujuan menciptakan tekanan dan biaya tinggi bagi lawan apabila konflik terjadi.
Fondasi Ketahanan Strategis Iran
Ketahanan nasional Iran dibangun melalui beberapa elemen utama yang saling mendukung. Pertama adalah konsistensi ideologi negara. Sejak revolusi berlangsung, orientasi pertahanan Iran relatif tidak berubah, yaitu menitikberatkan pada kemandirian nasional, penolakan terhadap intervensi asing, dan penguatan daya tangkal negara.
Kedua adalah penerapan strategi perang asimetris. Iran menyadari bahwa kemenangan dalam konflik modern tidak selalu ditentukan oleh keunggulan teknologi tinggi, tetapi juga oleh kemampuan melemahkan sistem lawan secara efektif. Karena itu, Iran mengembangkan kombinasi kekuatan berupa rudal presisi, drone berbiaya rendah, operasi siber, hingga pengaruh melalui jaringan regional.
Ketiga ialah keterlibatan masyarakat dalam sistem pertahanan nasional. Iran tidak memisahkan pertahanan negara sepenuhnya sebagai urusan militer. Melalui struktur seperti Basij, masyarakat dilibatkan dalam kerangka ketahanan nasional sehingga warga negara tidak hanya menjadi pihak yang dilindungi, tetapi juga bagian aktif dari sistem pertahanan.
Selain itu, keberadaan IRGC atau Islamic Revolutionary Guard Corps memiliki fungsi yang lebih luas dibanding militer konvensional. Institusi tersebut berperan dalam menjaga ideologi negara sekaligus menjadi instrumen strategis di bidang keamanan, ekonomi, dan pengaruh geopolitik kawasan.
Relevansi bagi Indonesia
Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan pertahanan berbasis rakyat melalui konsep Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata). Secara konseptual, sistem ini memberikan fondasi kuat bagi pembangunan ketahanan nasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Namun tantangan utama Indonesia saat ini bukan terletak pada kurangnya konsep, melainkan pada bagaimana konsep tersebut diterapkan secara nyata menghadapi ancaman modern. Ancaman masa kini tidak selalu hadir dalam bentuk invasi militer terbuka, tetapi berkembang menjadi perang siber, kebocoran data strategis, disinformasi, polarisasi sosial, ketergantungan teknologi asing, hingga perang persepsi dan budaya.
Dalam konteks tersebut, pelajaran penting dari Iran bukan terletak pada sistem politiknya, melainkan pada kemampuan negara tersebut menjaga konsistensi strategi nasional serta membangun ketahanan yang terintegrasi antara negara dan masyarakat.
Bela Negara sebagai Sistem Nyata
Perbedaan mendasar terlihat pada implementasi konsep bela negara. Di Iran, bela negara menjadi bagian hidup dari struktur nasional. Ideologi, kekuatan pertahanan, dan partisipasi masyarakat berjalan dalam satu arah strategis yang berkesinambungan.
Sementara di Indonesia, konsep bela negara masih sering diwujudkan dalam bentuk administratif dan simbolik, seperti pelatihan formal, kegiatan seremonial, atau program-program yang belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kebutuhan pertahanan modern.
Padahal secara konsep, Sishankamrata telah menempatkan rakyat sebagai komponen utama pertahanan negara. Tantangan terbesar adalah bagaimana mentransformasikan konsep tersebut menjadi sistem yang mampu menghadapi perang generasi baru, di mana batas antara kondisi damai dan konflik semakin sulit dibedakan.
Penutup
Terdapat sejumlah pelajaran strategis yang dapat menjadi refleksi bagi Indonesia. Pertama, konsistensi arah dan doktrin nasional sangat menentukan daya tahan sebuah negara dalam menghadapi tekanan eksternal. Perubahan orientasi yang terlalu sering dapat melemahkan stabilitas strategi jangka panjang.
Kedua, kekuatan pertahanan tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran, tetapi pada ketepatan strategi yang diterapkan. Negara dengan sumber daya terbatas tetap mampu membangun daya tangkal apabila memiliki strategi yang efektif dan adaptif.
Ketiga, keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam pertahanan modern. Di era perang informasi dan serangan siber, masyarakat bukan hanya objek perlindungan negara, tetapi juga bagian dari sistem pertahanan nasional itu sendiri.
Iran memperlihatkan bahwa ketahanan nasional bukan semata soal kekuatan militer, melainkan kemampuan negara mengintegrasikan ideologi, strategi, dan partisipasi masyarakat dalam satu sistem yang konsisten. Di tengah meningkatnya rivalitas global dan ancaman nonmiliter, model ketahanan seperti ini menjadi bahan refleksi yang relevan.
Bagi Indonesia, tantangan terbesar ke depan adalah menjadikan bela negara bukan sekadar konsep normatif, melainkan sistem operasional yang benar-benar hidup dan adaptif terhadap ancaman abad ke-21. Sebab pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari besarnya alutsista, tetapi dari kemampuan membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga negara merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa secara berkelanjutan. (Red).
















