Menu

Dark Mode
PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA Hari Koperasi ke-79 Jadi Ajang Promosi Produk UMKM Lamongan ke Kancah Globa WPP Pusat dan Jawa Timur Tegaskan Komitmen Menangkan PPP di Pemilu 2029. Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life Meriah! Nobar Final Piala Dunia 2026 di DPD Golkar Lamongan Berhadiah Dua Ekor Kambing PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

Opini

Lamongan di Persimpangan Reformasi: Sistem Lengkap, Implementasi Dipertanyakan

badge-check


					Lamongan di Persimpangan Reformasi: Sistem Lengkap, Implementasi Dipertanyakan Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com– Tata kelola pemerintahan daerah di Indonesia pada dasarnya telah dibangun dengan kerangka yang relatif komprehensif. Instrumen pengawasan, transparansi, partisipasi publik, hingga pencegahan korupsi tersedia dan terus diperkuat. Namun, kondisi di Kabupaten Lamongan menunjukkan adanya jurang antara desain sistem dan praktik di lapangan.

Sorotan terhadap lemahnya implementasi itu menguat seiring mencuatnya kasus dugaan korupsi proyek bernilai ratusan miliar rupiah. Perkara tersebut tidak hanya dipandang sebagai pelanggaran prosedural, melainkan mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam tata kelola, mulai dari fungsi pengawasan hingga komitmen terhadap keterbukaan.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Airlangga, Dr. Rudi Santoso (nama samaran), menilai persoalan utama bukan terletak pada kekurangan regulasi. “Kerangka aturan sudah memadai. Tantangannya ada pada konsistensi pelaksanaan dan kemauan politik untuk menindak pelanggaran secara tegas,” ujarnya saat dihubungi terpisah.

Instrumen pencegahan korupsi yang dikembangkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, seperti Monitoring Center for Prevention (MCP) dan Survei Penilaian Integritas (SPI), sejatinya dirancang sebagai sistem peringatan dini. Namun, penurunan skor atau berulangnya titik rawan dinilai belum sepenuhnya direspons sebagai sinyal serius oleh pemangku kebijakan daerah.

Sejumlah kalangan menilai, praktik reformasi birokrasi di daerah masih kerap berhenti pada tataran administratif. Digitalisasi layanan belum sepenuhnya terintegrasi, pengawasan cenderung formalitas, dan proses pengadaan barang dan jasa—yang dikenal sebagai sektor rawan—masih menyisakan celah.

Perbandingan dengan sejumlah daerah lain menunjukkan bahwa keberhasilan reformasi tidak selalu ditentukan oleh besarnya anggaran atau skala wilayah. Disiplin dalam menjalankan aturan, keterbukaan informasi yang mudah diakses publik, serta penguatan sistem merit dalam birokrasi menjadi faktor penentu.

Di sisi lain, kritik dari masyarakat sipil, termasuk mahasiswa, dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai masukan konstruktif. Padahal, partisipasi publik merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga akuntabilitas pemerintahan.

Dampak dari lemahnya implementasi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari kualitas pelayanan publik yang belum optimal hingga potensi praktik pungutan liar. Kondisi ini mempertegas urgensi pembenahan yang tidak sekadar berbasis wacana, tetapi berorientasi pada hasil konkret.

Langkah perbaikan dinilai tidak memerlukan pendekatan yang kompleks. Penutupan celah korupsi secara sistematis, keterbukaan data anggaran, peningkatan kualitas layanan publik, serta penegakan prinsip meritokrasi dalam birokrasi menjadi agenda mendesak yang dapat dijalankan dalam jangka menengah.

“Perubahan bisa terlihat dalam satu hingga tiga tahun jika ada komitmen yang kuat. Tanpa itu, reformasi hanya akan menjadi slogan,” kata Rudi.

Tulisan ini merujuk pada pandangan Kepala FKBN Bakorda Kabupaten Lamongan, M. Ferry Fadli, yang menilai bahwa tantangan utama saat ini bukan lagi soal apa yang harus dilakukan, melainkan sejauh mana keberanian untuk benar-benar menjalankan perbaikan tersebut. (Red).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Ironi MBG, Niatnya Sederhana Jalurnya Berbelit-belit

7 July 2026 - 03:45 WIB

MBG Libur, Siapa yang Kelaparan?

22 June 2026 - 09:31 WIB

Kebangkitan Polandia Menjadi Kekuatan Baru Eropa.

16 June 2026 - 14:32 WIB

Hari Lahir Pancasila: Jangan Biarkan Hanya Menjadi Seremoni

1 June 2026 - 16:34 WIB

Pertemuan Trump–Xi di Beijing dan Kebangkitan Diplomasi Korporat

18 May 2026 - 10:38 WIB

Trending on Opini