JAKARTA, WartaNuswantara.com — Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara dilaporkan terlibat aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz, Kamis malam (7/6/2026). Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan dan jalur distribusi energi global di Timur Tengah.
Media Al Jazeera (https://www.aljazeera.com) melaporkan, militer Amerika Serikat diduga menyerang sejumlah target milik Iran, termasuk kapal tanker minyak yang berlayar dari wilayah pesisir Iran dekat Jask menuju Selat Hormuz. Selain itu, kapal Iran lain di sekitar pelabuhan Fujairah, Uni Emirat Arab, juga disebut menjadi sasaran.
Informasi itu disampaikan juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya Iran yang menuduh Washington turut melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah sipil di Iran selatan, seperti Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm. Iran menilai serangan tersebut dilakukan dengan dukungan beberapa negara di kawasan.
Insiden tersebut terjadi tak lama setelah terdengar ledakan dan tembakan pertahanan udara di wilayah barat Teheran. Kantor berita resmi Iran, IRNA, melaporkan sistem anti-pesawat aktif selama beberapa menit di sekitar Distrik 22 Teheran dan Ahmadabad Mostofi.
Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya melakukan tindakan untuk menetralisir ancaman terhadap pasukan Amerika di kawasan Timur Tengah. Dalam keterangannya, CENTCOM mengaku menargetkan fasilitas militer Iran yang disebut terlibat dalam serangan terhadap kapal perang AS.
Target tersebut meliputi lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando dan kendali, hingga fasilitas intelijen dan pengawasan militer Iran. Menurut AS, Iran sebelumnya meluncurkan rudal, drone, dan kapal kecil ketika tiga kapal perusak Angkatan Laut AS melintasi Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump juga mengeluarkan pernyataan keras melalui platform Truth Social. Trump mengklaim serangan balasan AS telah menyebabkan kerusakan besar terhadap target Iran meski tidak ada kapal perang Amerika yang mengalami kerusakan.
Trump bahkan memperingatkan Iran agar segera menyepakati perjanjian terkait isu nuklir yang selama ini menjadi sumber ketegangan kedua negara. Ia menegaskan Washington siap melakukan serangan yang lebih besar jika Teheran menolak kesepakatan tersebut.
“Kita akan menghancurkan mereka dengan lebih keras dan lebih brutal di masa depan jika mereka tidak menandatangani kesepakatan secepatnya,” tulis Trump.
Meningkatnya eskalasi di Selat Hormuz dinilai berpotensi mengganggu jalur perdagangan minyak dunia karena kawasan tersebut merupakan salah satu rute utama distribusi energi internasional. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun dampak kerusakan secara menyeluruh akibat insiden tersebut. (Red).














