Menu

Dark Mode
Andai Juri Checking VAR Rawa Semando Kian Menyempit Akibat Tambak, Terncaman Banjir dan Kekeringan Residivis Narkoba Kembali Ditangkap, Polres Lamongan Sita Sabu dan Ekstasi Antisipasi Pencurian Ternak Jelang Qurban, Bhabinkamtibmas Sidomukti Intensifkan Patroli Dialogis 12 Mei, Hari Ulang Tahun yang Selalu Dibayangi Luka Bangsa POSSI Kota Batu Jos di Kejurda Finswimming Jatim 2026, Raih 19 Medali

Opini

Krisis Karakter Menguat, Guru Jadi Benteng Terakhir Nasionalisme Siswa

badge-check


					Krisis Karakter Menguat, Guru Jadi Benteng Terakhir Nasionalisme Siswa Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com — Dalam lanskap global yang semakin dinamis dan sarat tantangan, peran guru kini melampaui fungsi tradisional sebagai pengajar. Mereka menjelma menjadi figur strategis yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, membentuk karakter, serta menguatkan semangat bela negara di kalangan generasi muda. Urgensi ini kian terasa ketika bangsa dihadapkan pada berbagai krisis, mulai dari merosotnya moralitas, derasnya arus disinformasi, hingga infiltrasi ideologi lintas negara.

Konsep bela negara sendiri telah mengalami pergeseran makna. Tidak lagi terbatas pada aspek militer, bela negara kini mencakup kesadaran kolektif warga untuk berkontribusi menjaga keutuhan bangsa melalui berbagai sektor, termasuk pendidikan. Dalam konteks ini, posisi guru menjadi sangat menentukan.

Di sisi lain, tantangan di lapangan semakin kompleks. Era digital menghadirkan kemudahan akses informasi tanpa batas bagi peserta didik. Namun, tidak semua informasi tersebut membawa nilai positif. Konten hoaks, ujaran kebencian, hingga narasi yang berpotensi memecah belah bangsa kerap dikonsumsi tanpa filter. Kondisi ini berisiko menimbulkan kebingungan nilai di kalangan siswa jika tidak diimbangi dengan pendampingan yang tepat.

Menghadapi situasi tersebut, guru dituntut untuk beradaptasi secara cepat. Pendekatan pembelajaran tidak bisa lagi bersifat konvensional semata. Integrasi nilai-nilai bela negara harus dilakukan secara kontekstual dalam berbagai mata pelajaran maupun kegiatan sekolah. Pendidikan kewarganegaraan, sejarah, hingga aktivitas ekstrakurikuler perlu diarahkan untuk menumbuhkan daya kritis, kecintaan terhadap tanah air, serta kepedulian sosial.

Persoalan lain yang turut mengemuka adalah krisis keteladanan. Maraknya kasus korupsi, konflik sosial, serta ketimpangan hukum yang terekspos luas membuat siswa kerap kehilangan figur panutan. Dalam situasi ini, guru menjadi salah satu sosok yang masih memiliki legitimasi moral. Sikap integritas, kedisiplinan, dan nasionalisme yang ditampilkan guru dalam keseharian menjadi bentuk pembelajaran paling nyata bagi siswa.

Faktor ekonomi dan sosial juga tidak dapat diabaikan. Banyak siswa yang harus berhadapan dengan tekanan hidup, sehingga perhatian mereka terhadap pendidikan tidak selalu optimal. Dalam kondisi demikian, guru dituntut menghadirkan pendekatan yang lebih empatik, tanpa mengesampingkan substansi nilai yang ingin ditanamkan.

Peran strategis guru juga tampak dalam penguatan literasi digital. Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan siswa untuk memilah, menganalisis, dan memverifikasi informasi menjadi bagian penting dari pertahanan non-militer. Guru memiliki tanggung jawab untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang merusak persatuan.

Di wilayah Kabupaten Lamongan dan Jawa Timur secara umum, nilai-nilai lokal seperti gotong royong, solidaritas, dan kearifan budaya sebenarnya menjadi modal kuat dalam memperkuat pendidikan bela negara. Nilai-nilai ini dapat diintegrasikan secara relevan dalam proses pembelajaran agar lebih membumi bagi siswa.

Namun, upaya tersebut tidak akan optimal tanpa dukungan yang terintegrasi. Pemerintah daerah, institusi pendidikan, serta orang tua harus berada dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Kebijakan pendidikan perlu memberikan ruang inovasi bagi guru, bukan justru membebani dengan tuntutan administratif yang berlebihan.

Dalam perspektif krisis yang tengah dihadapi bangsa, peran guru bukan sekadar penting, melainkan menentukan. Mereka berada di garis depan dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam karakter dan ideologi. Mengabaikan peran ini sama halnya membuka celah bagi ancaman terhadap keutuhan bangsa.

Oleh karena itu, penguatan kapasitas dan posisi guru dalam pendidikan bela negara menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Masa depan bangsa pada akhirnya ditentukan oleh nilai-nilai yang ditanamkan hari ini di ruang-ruang kelas. (**)

Pembahasan dan ditulis oleh: M. Ferry Fadli, Kepala FKBN (Forum Kader Bela Negara) Bakorda Kabupaten Lamongan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Andai Juri Checking VAR

12 May 2026 - 12:16 WIB

12 Mei, Hari Ulang Tahun yang Selalu Dibayangi Luka Bangsa

12 May 2026 - 07:20 WIB

Geopolitik Global dan Masa Depan Bela Negara Indonesia

9 May 2026 - 05:59 WIB

Hardiknas 2026: Pendidikan Didorong Jadi Instrumen Penguatan Kesadaran Kebangsaan

2 May 2026 - 15:02 WIB

Lamongan di Persimpangan Reformasi: Sistem Lengkap, Implementasi Dipertanyakan

2 May 2026 - 14:12 WIB

Trending on Opini