Lamongan, WartaNuswantara.com — Peluncuran buku reflektif karya guru SMA Muhammadiyah 4 Lamongan (Fourmula) dalam rangkaian Halalbihalal dan Musyawarah Pimpian Daerah (Musypimda) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan menghadirkan perspektif baru tentang peran literasi, tidak hanya sebagai aktivitas intelektual, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi di tengah tekanan kehidupan modern.
Buku berjudul Hidup atau Sekadar Bertahan? karya kolaboratif Fathan Faris Saputro dan Uswatun Hasanah menjadi salah satu sorotan utama dalam kegiatan tersebut. Namun lebih dari sekadar peluncuran karya, momentum ini dinilai sebagai refleksi atas meningkatnya kebutuhan ruang dialog batin, khususnya di kalangan generasi muda.

Fathan Faris Saputro mengungkapkan bahwa buku tersebut lahir dari kegelisahan yang kerap ia temui, baik dalam kehidupan pribadi maupun saat berinteraksi dengan siswa di lingkungan sekolah.
“Banyak anak muda hari ini terlihat aktif dan produktif, tetapi di dalamnya menyimpan kelelahan yang tidak selalu tampak. Mereka menjalani rutinitas, namun sering kali kehilangan makna. Dari situlah ide buku ini muncul,” ujarnya.
Menurut Faris, literasi perlu diposisikan ulang, tidak hanya sebagai alat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana memahami diri. Ia menilai, minimnya ruang refleksi menjadi salah satu penyebab munculnya kejenuhan dan disorientasi hidup.
“Menulis dan membaca seharusnya menjadi ruang aman untuk berdialog dengan diri sendiri. Ketika itu tidak dimiliki, orang cenderung terjebak dalam pola hidup yang mekanis,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris PDM Lamongan, Dr. Piet Hizbullah Khaidir, S.Ag., M.A., melihat peluncuran buku ini sebagai bagian dari upaya memperluas makna literasi di tengah masyarakat.
“Selama ini literasi sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, lebih dari itu, literasi adalah kemampuan memaknai realitas, termasuk realitas diri sendiri,” tuturnya dalam sambutan.
Ia menambahkan, di tengah arus informasi yang cepat dan cenderung dangkal, karya-karya reflektif menjadi penting sebagai penyeimbang.
“Kita hidup di zaman yang serba instan. Banyak informasi, tetapi sedikit perenungan. Buku seperti ini mengingatkan kita bahwa berpikir mendalam adalah kebutuhan, bukan pilihan,” ujarnya.
Di sisi lain, peluncuran buku dalam forum organisasi seperti Musypimda juga memunculkan pandangan bahwa ruang-ruang struktural perlu lebih terbuka terhadap isu-isu non-formal, termasuk kesehatan mental dan pencarian makna hidup.
Pengamat pendidikan lokal yang hadir dalam kegiatan tersebut menilai bahwa langkah ini dapat menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya.
“Sekolah dan organisasi keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan mental generasi muda. Ketika isu-isu reflektif seperti ini mulai diangkat secara terbuka, itu menunjukkan adanya pergeseran paradigma yang positif,” ujarnya.
Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa gerakan literasi reflektif perlu diikuti dengan ekosistem yang mendukung, seperti ruang diskusi, pendampingan, serta budaya membaca yang konsisten.
Peluncuran buku Hidup atau Sekadar Bertahan? pada akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari agenda seremonial, tetapi juga membuka percakapan lebih luas tentang bagaimana individu memaknai hidup di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan budaya yang terus berubah.
Dengan pendekatan yang sederhana namun kritis, karya ini diharapkan mampu menjangkau pembaca lintas kalangan, sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik kesibukan sehari-hari, setiap individu tetap membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, merenung, dan menemukan kembali arah hidupnya. (Red)
Di sadur dari tulisan Selamet Priyanto














