Lamongan, WartaNuswantara.com — Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 PT PAL Indonesia di Desa Sidokelar, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, tidak hanya menjadi ajang syukur perusahaan, tetapi juga memunculkan beragam harapan dan catatan dari masyarakat pesisir setempat.
Kegiatan yang diisi dengan tasyakuran, pesta rakyat, dan penyerahan beasiswa pendidikan bagi siswa berprestasi ini dinilai sebagai bentuk pendekatan sosial perusahaan kepada warga. Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyatakan bahwa kemajuan industri harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.


Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod (kaos putih) menyerahkan beasiswa secara simbolis kepada 15 siswa Desa Sidokelar, Kec. Paciran Lamongan.
“Melalui pemberian beasiswa, kami ingin membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda agar mampu bersaing dan berkontribusi di masa depan,” ujarnya.
Selain kegiatan sosial, momen tersebut juga ditandai dengan penyerahan Berita Acara Serah Terima (BAST) area workshop dari PT Lamongan Marine Industry kepada PT PAL Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi penguatan industri galangan kapal di wilayah pesisir Lamongan.
Di sisi lain, sejumlah warga melihat kehadiran dan ekspansi industri ini sebagai peluang sekaligus tantangan. Sebagian masyarakat berharap pengembangan industri maritim dapat membuka lapangan kerja yang lebih luas bagi warga lokal, khususnya generasi muda pesisir.
“Kalau memang ada pengembangan, kami berharap tenaga kerja lokal bisa lebih diutamakan,” ujar salah satu warga Sidokelar yang enggan disebutkan namanya.
Namun, ada pula kekhawatiran terkait dampak jangka panjang terhadap lingkungan pesisir dan aktivitas nelayan tradisional. Warga menilai bahwa perlu ada jaminan konkret terkait pengelolaan limbah industri dan keberlanjutan ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan mereka.
Menanggapi hal tersebut, pihak PT PAL Indonesia menyatakan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui kerja sama dengan Universitas Trunojoyo Madura. Kerja sama ini difokuskan pada upaya menjaga ekosistem pesisir agar tetap berkelanjutan di tengah aktivitas industri.
“Kami menyadari pentingnya keseimbangan antara industri dan lingkungan. Karena itu, kolaborasi dengan akademisi menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan,” kata Kaharuddin.
Pengamat pembangunan wilayah pesisir menilai, sinergi antara industri, masyarakat, dan akademisi memang menjadi kunci agar pembangunan tidak menimbulkan kesenjangan baru. Transparansi dan pelibatan masyarakat dinilai penting untuk memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata.
Rangkaian kegiatan HUT ditutup dengan pesta rakyat yang menghadirkan bazar makanan dan hiburan. Meski berlangsung meriah, perayaan ini sekaligus menjadi titik awal dialog yang lebih luas tentang arah pembangunan pesisir Lamongan—antara pertumbuhan industri dan keberlanjutan kehidupan masyarakat lokal.
(Red).














