Menu

Dark Mode
Sinergi Pusat-Daerah Disorot dalam Survei Kampung Nelayan Merah Putih di Lamongan Pemerintah Buka Rekrutmen Nasional untuk Perkuat Koperasi Desa dan Kampung Nelayan Bocah 8 Tahun Tewas Tenggelam di Kali Pasinan Lamongan, Polisi Imbau Pengawasan Anak Ditingkatkan Dialog di Atas KRI Dewa Ruci: Mendorong Bela Negara di Tengah Tantangan Kedaulatan Laut Siap Menghadapi kemarau, lamongan dapat kado bantuan sarana irigasi dari kementan Melimpahnya Pupuk Perikanan Lamongan, 52 ribu Ton siap diserap Petambak.

Opini

Ketika Guru Dikalahkan Upahnya: Potret Bangsa yang Salah Menilai Martabat Ilmu

badge-check


					Ketika Guru Dikalahkan Upahnya: Potret Bangsa yang Salah Menilai Martabat Ilmu Perbesar

Ketika Guru Dikalahkan Upahnya: Potret Bangsa yang Salah Menilai Martabat Ilmu

Indonesia, WartaNuswantara.com Ada ironi yang semakin sulit disangkal dalam kehidupan sosial kita hari ini: profesi guru, yang seharusnya menjadi salah satu pilar paling mulia dalam sebuah bangsa, justru sering kali berada di posisi paling lemah dalam urusan penghargaan ekonomi. Di tengah pidato-pidato yang penuh retorika tentang “pendidikan adalah kunci kemajuan bangsa,” realitas berbicara sebaliknya: gaji guru di banyak tempat bahkan kalah dibanding pekerja kasar dalam program-program tertentu, termasuk pekerja MBG.

Perlu ditegaskan sejak awal, kritik ini bukanlah upaya merendahkan pekerja kasar. Mereka adalah bagian penting dari roda pembangunan dan layak mendapatkan penghidupan yang layak. Namun yang menjadi persoalan besar adalah ketika sistem negara justru menempatkan penyedia ilmu pengetahuan dalam posisi yang lebih rendah secara ekonomi dibanding pekerjaan yang tidak memikul tanggung jawab intelektual, moral, dan sosial sebesar profesi guru.

Di sinilah letak masalahnya: bangsa ini tampaknya belum benar-benar memahami nilai strategis pendidikan.

Guru bukan sekadar pekerja yang datang ke sekolah, mengajar beberapa jam, lalu pulang. Guru adalah pembentuk manusia. Mereka bekerja bukan hanya dengan tenaga, tetapi dengan pikiran, kesabaran, dan tanggung jawab besar untuk membangun karakter generasi masa depan. Guru adalah fondasi yang melahirkan seluruh profesi lain. Tidak akan ada dokter tanpa guru. Tidak akan ada insinyur tanpa guru. Tidak akan ada pemimpin tanpa guru. Bahkan pekerja kasar sekalipun lahir dari sistem pendidikan yang ditopang oleh guru.

Foto ilustrasi guru dan petugas MBG siap mrmbagikan makanan untuk siswa

Namun ironisnya, justru profesi yang melahirkan semua profesi lain itu diperlakukan seolah hanya pelengkap.

Ketika upah guru lebih rendah dibanding pekerjaan-pekerjaan yang tidak menuntut kompetensi akademik dan tanggung jawab sebesar itu, maka yang sesungguhnya sedang terjadi adalah penghinaan struktural terhadap ilmu pengetahuan. Negara seperti sedang mengirim pesan yang sangat berbahaya: bahwa mendidik bukan pekerjaan penting, bahwa mencerdaskan bangsa bukan prioritas utama, bahwa masa depan tidak sepenting hasil kerja yang terlihat instan dan kasat mata.

Ini adalah krisis cara pandang.

Bangsa ini tampaknya masih terjebak dalam mentalitas pragmatis: menghargai sesuatu hanya jika dampaknya langsung terlihat, hanya jika bisa diukur dengan proyek fisik dan angka-angka ekonomi jangka pendek. Sementara pekerjaan guru, yang hasilnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian dalam bentuk manusia yang cerdas dan bermartabat, dianggap tidak layak diberi penghargaan yang setimpal.

Lebih menyedihkan lagi, kondisi ini bukan hanya soal ketimpangan upah, tetapi juga soal ketimpangan martabat. Guru dipuja dalam slogan, tetapi diabaikan dalam kebijakan. Guru disebut “pahlawan tanpa tanda jasa,” namun sebutan itu sering kali menjadi cara halus untuk membenarkan ketidakadilan: seolah-olah guru memang ditakdirkan untuk hidup dalam keterbatasan.

Padahal tidak ada bangsa maju yang lahir dari pendidikan yang memiskinkan pendidiknya.

Jika negara terus membiarkan guru hidup dalam ketidaklayakan, maka dampaknya akan sangat serius. Pertama, kualitas pendidikan akan stagnan, karena sulit mengharapkan profesionalisme tinggi dari profesi yang dipaksa bertahan dalam tekanan ekonomi. Kedua, generasi muda akan semakin enggan memilih jalan menjadi pendidik, karena mereka melihat bahwa profesi ini tidak menjanjikan masa depan yang layak. Ketiga, bangsa ini akan kehilangan fondasi moral dan intelektualnya secara perlahan.

Karena pendidikan bukan sekadar kurikulum dan gedung sekolah. Pendidikan adalah manusia, dan manusia itu bernama guru.

Sudah saatnya pemerintah berhenti menjadikan guru sekadar simbol dalam pidato seremonial, sementara kesejahteraan mereka dibiarkan kalah dibanding pekerjaan-pekerjaan yang bahkan tidak memikul beban mencerdaskan bangsa. Negara harus memilih: apakah benar ingin membangun masa depan, atau hanya sibuk membangun proyek-proyek jangka pendek tanpa fondasi peradaban.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang tidak memuliakan gurunya adalah bangsa yang sedang menggali kemundurannya sendiri. (Red).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sinergi Pusat-Daerah Disorot dalam Survei Kampung Nelayan Merah Putih di Lamongan

16 April 2026 - 09:32 WIB

Pemerintah Buka Rekrutmen Nasional untuk Perkuat Koperasi Desa dan Kampung Nelayan

16 April 2026 - 07:43 WIB

Gresik–Lamongan Jajaki PSEL, Solusi Sampah atau Tantangan Baru?

9 April 2026 - 14:13 WIB

DPP Resmi Tetapkan Pengurus, PPP Jatim Siap Bangkit

31 March 2026 - 18:49 WIB

Usul Penghapusan Pensiun Seumur Hidup Dialihkan ke Guru Honorer dan Nakes, Firman Soebagyo: Demi Keadilan Anggaran Negara

24 March 2026 - 00:06 WIB

Trending on Berita Terkini