Menu

Dark Mode
PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA Hari Koperasi ke-79 Jadi Ajang Promosi Produk UMKM Lamongan ke Kancah Globa WPP Pusat dan Jawa Timur Tegaskan Komitmen Menangkan PPP di Pemilu 2029. Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life Meriah! Nobar Final Piala Dunia 2026 di DPD Golkar Lamongan Berhadiah Dua Ekor Kambing PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

Daerah

Produksi Padi Lamongan Tinggi, Biaya pun Tinggi dan Kualitas Lahan memburuk

badge-check


					Produksi Padi Lamongan Tinggi, Biaya pun Tinggi dan Kualitas Lahan memburuk Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com  – Sektor pertanian di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih menunjukkan kinerja produksi padi yang relatif tinggi. Namun, di balik capaian tersebut, petani kini dihadapkan pada tantangan meningkatnya biaya produksi serta indikasi penurunan kualitas lahan.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lamongan, pada 2024 luas panen padi tercatat sekitar 130,67 ribu hektare dengan total produksi mencapai 776,29 ribu ton gabah kering giling (GKG) atau setara 448,25 ribu ton beras. Angka ini menempatkan Lamongan sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur.

Meski demikian, secara tren terjadi penurunan. Produksi beras tercatat turun sekitar 2,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara luas panen menyusut sekitar 6,47 persen. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.

Di lapangan, petani mulai merasakan perubahan kondisi lahan. Sutrisno (52), petani asal Kecamatan Laren, mengungkapkan bahwa kebutuhan pupuk kini meningkat dibandingkan sebelumnya.

“Dulu pemakaian pupuk tidak sebanyak sekarang, tapi hasilnya sudah cukup. Sekarang harus lebih banyak, tapi hasilnya tidak jauh berbeda,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Mujiono (47), petani dari Karangbinangun, yang menilai kondisi tanah saat ini mengalami penurunan kualitas.

“Kalau kering jadi pecah-pecah, kalau basah lengket. Tidak segembur dulu,” katanya.

Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah serta penggunaan pupuk kimia secara intensif dalam jangka panjang. Dampaknya, efisiensi pemupukan menurun dan biaya produksi semakin tinggi. Selain itu, serangan hama yang meningkat dalam beberapa musim tanam terakhir turut mendorong petani menambah penggunaan pestisida.

Di sisi lain, upaya adaptasi mulai dilakukan oleh sebagian petani. Slamet (45), petani di Babat, mengaku mulai mengombinasikan pupuk kimia dengan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah.

“Memang tidak langsung terlihat hasilnya, tapi tanah lebih mudah diolah,” ujarnya.

Penyuluh pertanian juga mendorong penerapan pola budidaya berkelanjutan, seperti pemupukan berimbang berbasis uji tanah, penggunaan pupuk organik, pengembalian jerami ke lahan, serta pengendalian hama terpadu (PHT).

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bakorda FKBN Kabupaten Lamongan, Ferry Fadli, menilai daerahnya kini berada pada fase penting antara menjaga produktivitas dan mempertahankan kualitas lahan.

“Produktivitas masih bisa dipertahankan, tetapi keberlanjutan sangat bergantung pada cara kita mengelola tanah hari ini. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Secara keseluruhan, sistem pertanian yang berkembang sejak era Revolusi Hijau telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi pangan di Lamongan. Namun, tantangan baru berupa degradasi lahan dan meningkatnya biaya produksi menuntut adanya perubahan pendekatan agar sektor pertanian tetap berkelanjutan di masa mendatang.(Red)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA

27 July 2026 - 04:05 WIB

Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life

20 July 2026 - 12:13 WIB

Ironi MBG, Niatnya Sederhana Jalurnya Berbelit-belit

7 July 2026 - 03:45 WIB

Ketua JMSI Jawa Timur: HUT Media Harus Berdampak bagi Masyarakat

4 July 2026 - 05:22 WIB

Lagi, Gagal Salip Truk Pemotor 19 Tahun Tewas

3 July 2026 - 15:13 WIB

Trending on Berita Terkini