Menu

Dark Mode
Debu Dolomit Kepung Permukiman, DLH Lamongan Turun Tangan Sengketa data Pertanahan Plosowahyu, Pemdes Tegaskan Pentingnya Kejelasan Status Pemohon Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu Dugaan Ulat di Menu MBG Kembangbahu, SPPG Lopang 2 Disorot Pemdes Brangsi: Paving Lama Digunakan Kembali Sesuai Konsep Rehab Pengurus Pamsimas Desa Brangsi: Iuran Rp2.000 per Meter Kubik, Bukan Tarif Mahal

Berita Terkini

Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu

badge-check


					Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu Perbesar

LAMONGAN, WartaNuswantara.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamongan kembali melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Kembangbahu menyusul laporan dugaan ditemukannya benda menyerupai ulat dalam makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Evaluasi tersebut dilakukan sebanyak dua kali setelah laporan serupa muncul dalam rentang waktu yang relatif berdekatan.

Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Lamongan, dr. Fidha, mengatakan evaluasi pertama dilakukan sehari setelah pihaknya menerima laporan dugaan temuan benda menyerupai ulat dalam menu MBG yang dikonsumsi siswa.

“Setelah kejadian pertama, Dinkes langsung melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap SPPG terkait pada hari berikutnya,” ujar dr. Fidha saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (20/8/2026).

Namun, sekitar satu pekan kemudian, persoalan serupa kembali dilaporkan. Makanan dengan bahan yang sama kembali dibagikan dan ditemukan benda yang disebut menyerupai ulat.

Atas laporan kedua tersebut, Dinkes Lamongan kembali turun melakukan evaluasi terhadap SPPG yang bersangkutan. Pembinaan juga diberikan sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Perhatian terhadap kasus ini semakin besar karena SPPG tersebut diketahui telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

SLHS merupakan salah satu persyaratan dalam pemenuhan standar higiene dan sanitasi jasa boga. Pemenuhannya mencakup sejumlah aspek, antara lain kualitas air dan makanan, kondisi lingkungan, serta pembinaan dan pelatihan bagi tenaga pengelola pangan.

Meski demikian, kepemilikan sertifikat tersebut tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pengawasan secara berkelanjutan. Setiap tahapan, mulai dari penerimaan bahan baku, pencucian, proses pengolahan, hingga pemeriksaan makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat, tetap harus diperhatikan.

Terlebih, laporan yang muncul lebih dari sekali dalam waktu berdekatan menjadi alasan perlunya evaluasi lebih mendalam terhadap sistem pengawasan keamanan pangan di SPPG tersebut.

Pemeriksaan dapat mencakup kondisi bahan baku, proses pencucian dan pengolahan, hingga mekanisme pemeriksaan akhir sebelum makanan dikirim ke sekolah.

Penanganan kasus tersebut tidak berhenti pada evaluasi dan pembinaan terhadap SPPG.

Dr. Fidha menyampaikan, Dinkes Lamongan juga akan menyusun laporan untuk diteruskan kepada Satgas MBG Kabupaten Lamongan.

“Tidak berhenti pada evaluasi dan pembinaan, Dinas Kesehatan saat ini akan menyusun laporan untuk disampaikan kepada Satgas MBG Kabupaten,” katanya.

Laporan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi lintas pihak untuk memperkuat pengawasan terhadap bahan pangan serta memastikan pelaksanaan program MBG memenuhi standar kebersihan, kualitas, dan keamanan makanan.

Sementara itu, Pembina Yayasan Pondok Pesantren Al Munawwaroh Kembangbahu, Gus Gik, membenarkan bahwa pihaknya menerima dokumentasi mengenai dugaan temuan benda menyerupai ulat dalam makanan MBG.

Menurutnya, dokumentasi berupa foto tersebut diperoleh dari sejumlah guru dan wali murid.

“Iya benar saya dapat foto-foto tersebut dari guru-guru dan wali murid,” ujar Gus Gik saat dikonfirmasi, Rabu (19/8/2026).

Meski dokumentasi telah diterima, jenis benda yang ditemukan serta penyebab keberadaannya dalam makanan belum dapat dipastikan hanya berdasarkan foto. Kepastian mengenai temuan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.

Dengan telah dilakukannya evaluasi sebanyak dua kali serta rencana pelaporan kepada Satgas MBG Kabupaten Lamongan, pengawasan terhadap penyedia makanan dalam program MBG diharapkan semakin diperketat. Langkah tersebut penting untuk memastikan makanan yang diterima peserta didik tetap memenuhi standar keamanan, kebersihan, dan kelayakan konsumsi. (Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Debu Dolomit Kepung Permukiman, DLH Lamongan Turun Tangan

12 September 2026 - 13:20 WIB

Sengketa data Pertanahan Plosowahyu, Pemdes Tegaskan Pentingnya Kejelasan Status Pemohon

21 August 2026 - 19:01 WIB

Dugaan Ulat di Menu MBG Kembangbahu, SPPG Lopang 2 Disorot

20 August 2026 - 11:23 WIB

Pemdes Brangsi: Paving Lama Digunakan Kembali Sesuai Konsep Rehab

14 August 2026 - 09:54 WIB

Pengurus Pamsimas Desa Brangsi: Iuran Rp2.000 per Meter Kubik, Bukan Tarif Mahal

14 August 2026 - 09:48 WIB

Trending on Hot News