Ketika Panggilan Langit Menemukan Jalannya ke Hati Manusia
Disadur dari Opini
Oleh: Muhammad Saefullah
Allah SWT berfirman:
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”(QS. Al-Hajj: 27)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, terdapat fragmen agung yang selalu menggetarkan hati. Setelah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bersama Nabi Ismail ‘Alaihissalam menuntaskan pembangunan Ka’bah, Allah SWT memerintahkan sebuah tugas yang tampak mustahil: menyeru manusia agar berhaji.
Ibrahim, dengan kerendahan hati seorang hamba, bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin suaraku sampai kepada manusia, sementara aku berada di lembah sunyi?”
Lalu Allah menjawab dengan kalimat yang melampaui logika manusia:
“Serulah! Tugasmu hanya memanggil. Tugas-Ku menyampaikan.”
Maka Ibrahim berdiri di atas Bukit Abu Qubais. Ia berseru kepada seluruh umat manusia. Dan menurut riwayat para ulama, Allah merendahkan gunung-gunung agar suara itu melintasi ruang dan waktu, menembus generasi demi generasi, hingga masuk ke dalam ruh manusia yang bahkan belum dilahirkan.
Mungkin itulah sebabnya panggilan haji tidak pernah benar-benar dapat dijelaskan dengan akal. Ia tidak tunduk pada hitungan matematis semata. Tidak sepenuhnya bergantung pada status sosial, kekayaan, atau garis keturunan. Ada orang yang hartanya melimpah, tetapi belum juga sampai ke Tanah Suci. Sebaliknya, ada mereka yang hidup sederhana, namun namanya tiba-tiba tercatat sebagai tamu Allah. Begitu pula dengan saya.
Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang perangkai kata yang sehari-hari akrab dengan tenggat waktu dan tumpukan pekerjaan. Saya tidak memiliki nasab kiai, tidak menyandang gelar gus, habib, ataupun ajengan. Kehidupan saya biasa saja, jauh dari gemerlap kemewahan yang sering dipamerkan di media sosial.
Namun rupanya, suara Nabi Ibrahim ribuan tahun lalu itu juga singgah di telinga saya.
Dengan keyakinan sederhana terhadap kuasa Allah, saya memberanikan diri mendaftar haji pada tahun 2012. Dan setelah penantian panjang selama 14 tahun, saya sampai di titik ini: memenuhi undangan-Nya sebagai bagian dari Kloter 75 SOC Solo.
Di situlah saya memahami satu hal penting: haji sejatinya bukan sekadar perjalanan finansial, melainkan perjalanan spiritual. Ia bukan hanya soal kemampuan membayar, melainkan tentang dipanggil. Sebab pada akhirnya, haji adalah undangan VVIP dari Tuhan semesta alam.
“Tilik Haji”: Wajah Hangat Islam Nusantara
Di negeri ini, panggilan haji tidak pernah menjadi urusan pribadi semata. Ia menjelma menjadi peristiwa sosial yang menghidupkan kampung, gang-gang kecil, mushala, hingga ruang-ruang sederhana tempat warga saling mengenal.
Tradisi itu bernama *tilik haji*.
Begitu acara walimatus safar digelar, rumah mendadak berubah menjadi terminal doa. Orang-orang datang silih berganti: rombongan Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, Aisyiyah Muhammadiyah, ibu-ibu pengajian RT, para tetangga, kerabat, sahabat lama, hingga mereka yang mungkin jarang bertemu sebelumnya.
Mereka datang bukan untuk formalitas. Mereka hadir membawa ketulusan.
Ada yang membawa gula, beras, telur, air mineral, atau sekadar amplop kecil yang mungkin nilainya tak seberapa. Namun sesungguhnya, yang paling mahal dari semua itu adalah doa yang mereka titipkan dengan tulus.
Di titik inilah saya merasa bahwa tradisi tilik haji bukan sekadar budaya. Ia adalah bentuk nyata dari solidaritas sosial yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Sosiolog Prancis, Émile Durkheim, pernah mengatakan bahwa masyarakat hanya bisa bertahan jika antarindividu memiliki ikatan emosional dan rasa kebersamaan. Tanpa itu, manusia akan berubah menjadi makhluk-makhluk individual yang saling asing dan kehilangan arah.
Namun jauh sebelum Durkheim menjelaskan teori itu, Rasulullah SAW telah lebih dahulu menggambarkannya dengan bahasa yang jauh lebih indah:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”(HR Muslim)
Hadis ini menemukan bentuk paling nyata dalam tradisi tilik haji.
Di atas hamparan karpet plastik, di sela aroma kopi dan rengginang, masyarakat mempraktikkan makna ukhuwah secara konkret. Tetangga yang belum mampu berhaji tidak datang dengan iri hati. Sebaliknya, mereka merasa ikut menjadi bagian dari perjalanan itu. Mereka merasa turut melangkah menuju Ka’bah melalui doa-doa yang mereka panjatkan.
Di sana terjadi pertukaran spiritual yang sangat indah: para tamu mendoakan agar calon jamaah meraih haji mabrur, sementara sang calon jamaah mendoakan agar mereka kelak mendapat giliran menjadi tamu Allah.
Kita memang tidak ingin masuk surga sendirian. Kita ingin berangkat bersama, pulang bersama, dan bahagia bersama.
Karena itu, tradisi tilik haji sesungguhnya bukan sekadar seremoni sosial. Ia adalah benteng terakhir yang menjaga masyarakat agar tidak berubah menjadi manusia-manusia dingin yang hidup sendiri-sendiri tanpa kepedulian.
Rudal, Politik, dan Kecemasan Dunia
Ironisnya, di saat jutaan manusia sedang bersiap mengetuk pintu langit lewat ibadah haji, dunia justru sibuk mempersiapkan perang.
Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sempat memunculkan kecemasan tentang keamanan perjalanan haji. Ada kekhawatiran ibadah akbar ini akan terganggu oleh konflik geopolitik yang tak kunjung selesai.
Kadang manusia memang aneh. Nabi Ibrahim memanggil umat manusia untuk berkumpul dalam ketundukan kepada Tuhan, sementara sebagian pemimpin dunia justru sibuk mempertontonkan adu kekuatan dan kecanggihan rudal.
Namun sejarah membuktikan bahwa panggilan haji selalu menemukan jalannya sendiri.
Ia telah melewati wabah, perang, pergantian kekuasaan, krisis ekonomi, hingga konflik antarnegara. Tetapi jutaan manusia tetap datang ke Baitullah dengan pakaian ihram yang sama: tanpa pangkat, tanpa jabatan, tanpa simbol duniawi.
Di hadapan Ka’bah, semua manusia kembali setara.
Haji dan “War” Tiket Zaman Modern
Di tengah kekhusyukan itu, manusia modern tetap saja membawa logika kompetisinya sendiri.
Kini muncul wacana tentang “war” tiket haji, seolah perjalanan menuju rumah Allah harus dilakukan dengan adu cepat jempol layaknya berburu tiket konser atau diskon belanja daring.
Di titik tertentu, kita seperti lupa bahwa haji bukan sekadar transaksi administratif. Ia adalah perjalanan panggilan jiwa.
Birokrasi memang penting. Sistem harus dijaga. Namun jangan sampai manusia merasa lebih berkuasa daripada takdir Tuhan sendiri.
Sebab panggilan Nabi Ibrahim tidak pernah mengenal istilah *sold out*. Ia tidak tunduk pada kekuatan sinyal internet, kecepatan server, ataupun kecanggihan algoritma.
Ketika Allah memanggil, jalan selalu terbuka.
Dan kini, saya melangkah menuju Tanah Suci dengan membawa satu keyakinan sederhana: saya tidak pergi sendirian. Bersama saya ada doa-doa dari rumah kecil yang dipenuhi aroma kopi, suara tahlil, dan ketulusan para tamu tilik haji.
Labbaikallahumma Labbaik…
Kami datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, sambil membawa titipan rindu dari mereka yang belum sempat berangkat, namun doa-doanya telah lebih dahulu sampai ke langit-Mu. (Red).
















