JAKARTA, WartaNuswantara.com— Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi membentuk Tim Khusus (Timsus) Mina guna memperkuat pelayanan dan perlindungan bagi jemaah haji Indonesia, terutama kelompok lanjut usia (lansia) dan jemaah sakit, selama pelaksanaan puncak ibadah haji di Mina, Arab Saudi.
Langkah tersebut dilakukan menyusul tingginya risiko kepadatan pergerakan jemaah serta potensi kelelahan fisik saat prosesi Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), khususnya pada fase lempar jumrah yang melibatkan jutaan jemaah dari berbagai negara.
Koordinator Bidang Satuan Operasi Arafah Muzdalifah dan Mina (Satop Armuzna) serta Pelindungan Jemaah PPIH Arab Saudi, Harun Arrasyid Usman, mengatakan tim tersebut disiapkan untuk meminimalkan risiko keterlambatan penanganan jemaah rentan di tengah padatnya mobilitas selama puncak haji.
“Personel Timsus Mina merupakan petugas berpengalaman yang minimal pernah mengikuti satu kali operasional haji sebelumnya. Mereka diberangkatkan lebih awal menuju Mina agar kondisi fisiknya tetap prima saat menyambut kedatangan jemaah,” ujar Harun di Makkah melalui komunikasi Whatsapp, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, para petugas diberangkatkan pada malam 8 Zulhijah langsung menuju Mina tanpa melalui Arafah. Skema tersebut diterapkan agar petugas dapat fokus melakukan pengawasan, pendampingan, dan pertolongan cepat ketika jemaah mulai bergerak dari Muzdalifah menuju Jamarat.
Harun menjelaskan, fase kedatangan jemaah di Mina menjadi salah satu titik paling rawan dalam rangkaian ibadah haji. Kepadatan arus manusia, jarak tempuh yang panjang, hingga kondisi cuaca panas berpotensi menyebabkan kelelahan, terutama bagi jemaah lansia dan yang memiliki riwayat penyakit.
Selain mengawal jemaah reguler, Timsus Mina juga disiagakan untuk membantu jemaah dengan skema murur, yakni jemaah yang hanya melintas di Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan sebelum menuju Mina.
PPIH juga melakukan pemetaan lokasi maktab untuk memudahkan pengawasan dan distribusi layanan. Mayoritas jemaah haji Indonesia tahun ini ditempatkan di Zona 3 dan Zona 5, terutama di sekitar kawasan Terowongan Muaisim.
Wilayah tersebut terbagi dalam 61 markas atau maktab, mulai dari area bawah hingga kawasan perbukitan atas. Adapun skema tanazul atau pemulangan jemaah langsung ke hotel usai lempar jumrah Aqabah masih dalam tahap finalisasi penempatan.
Dalam kesempatan itu, Harun turut mengingatkan jemaah agar mematuhi jalur pergerakan yang telah ditetapkan petugas demi menghindari penumpukan massa di area jamarat.
Ia menegaskan bahwa jemaah yang berada di tenda Mina diprioritaskan melaksanakan lempar jumrah melalui lantai tiga Jamarat. Setelah selesai melontar, jemaah diminta tidak turun ke lantai bawah karena berpotensi menimbulkan kemacetan arus pergerakan.
“Jemaah sebaiknya mengikuti arahan petugas dan menggunakan jalur putar yang langsung kembali menuju Terowongan Muaisim agar pergerakan tetap aman dan tertib,” katanya.
PPIH memperkirakan jarak perjalanan pulang-pergi melalui dua Terowongan Muaisim mencapai sekitar 4,5 kilometer. Karena itu, kesiapan fisik jemaah serta disiplin mengikuti alur perjalanan dinilai menjadi faktor penting untuk mencegah gangguan selama pelaksanaan puncak ibadah haji.
Dengan pembentukan Timsus Mina dan pengaturan jalur yang lebih terstruktur, PPIH berharap proses ibadah di Armuzna dapat berlangsung aman, lancar, dan memberikan perlindungan maksimal bagi seluruh jemaah Indonesia, khususnya kelompok rentan. (Red).
















