Menu

Dark Mode
KLASTERISASI OLAHAN HASIL LAUT MENJADI KERUPUK IKAN PT PNM MEKAAR Nihrul Bahi Al Haidar: Jangan Jadikan Sekolah Negeri Ladang Bisnis LKS Satresnarkoba Lamongan Ringkus Terduga Pengedar Sabu di Brondong 27 Tahun Berkarya, PT PNM Lamongan Menguatkan Peran, Menebar manfaat Bagi Masyarakat Pemulangan Jemaah Haji Indonesia Dimulai, Kemenhaj Ingatkan Larangan Membawa Zamzam dalam Koper Pembelian LKS di SD Negeri Jadi Sorotan, Dewan Pendidikan Lamongan Minta Diperketat

Opini

Di Balik “Kepungan” Pangkalan AS, Indonesia Perkuat Posisi Strategis dan Politik Bebas Aktif

badge-check


					Di Balik “Kepungan” Pangkalan AS, Indonesia Perkuat Posisi Strategis dan Politik Bebas Aktif Perbesar

JAKARTA, WartaNuswantara.com — Narasi yang menyebut Indonesia “dikelilingi” pangkalan militer Amerika Serikat kembali mencuat di ruang publik. Sejumlah titik seperti Singapura, Darwin di Australia, Guam, hingga Diego Garcia kerap disebut sebagai bukti bahwa Indonesia berada dalam tekanan geopolitik kawasan. Namun, sejumlah pengamat menilai narasi tersebut perlu dilihat secara lebih utuh dan proporsional.

Secara geografis, Indonesia memang berada di jalur strategis Indo-Pasifik yang menjadi perhatian banyak kekuatan global. Keberadaan fasilitas militer AS di kawasan, menurut analis pertahanan, lebih mencerminkan kepentingan menjaga stabilitas jalur perdagangan internasional dan komitmen aliansi dengan negara mitra, bukan semata-mata untuk “mengepung” Indonesia.

“Indonesia justru diuntungkan dari posisinya yang strategis. Negara-negara besar berkepentingan menjaga stabilitas kawasan, termasuk keamanan jalur laut yang juga vital bagi ekonomi Indonesia,” ujar seorang pengamat hubungan internasional.

Dalam konteks ini, kehadiran pangkalan di sekitar kawasan juga tak lepas dari dinamika persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, khususnya di wilayah Laut Cina Selatan. Namun Indonesia sendiri bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik tersebut, meskipun memiliki kepentingan di wilayah Natuna.

Pemerintah Indonesia secara konsisten menegaskan tidak mengizinkan pendirian pangkalan militer asing di dalam negeri. Prinsip politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi landasan utama dalam menjaga kedaulatan sekaligus menjalin hubungan dengan berbagai pihak.

Di sisi lain, narasi “kepungan” juga memunculkan diskursus tentang pentingnya penguatan sistem pertahanan nasional. Konsep pertahanan rakyat semesta yang telah lama menjadi doktrin Indonesia kembali disorot sebagai strategi menghadapi berbagai potensi ancaman, baik militer maupun non-militer.

Namun demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar penguatan bela negara tidak hanya dipahami dalam konteks militeristik. “Bela negara hari ini juga mencakup ketahanan ekonomi, pendidikan, hingga literasi digital. Ancaman tidak selalu berbentuk invasi fisik,” kata seorang akademisi.

Program bela negara yang digagas Kementerian Pertahanan dinilai dapat menjadi sarana membangun kesadaran kolektif masyarakat. Meski begitu, implementasinya diharapkan tetap mengedepankan pendekatan inklusif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Dengan demikian, alih-alih melihat posisi geografis Indonesia sebagai kelemahan, banyak kalangan menilai hal tersebut justru merupakan modal strategis. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia mampu menjaga keseimbangan di tengah dinamika global, tanpa kehilangan kedaulatan dan arah kebijakan nasionalnya.

Salam Bela Negara!!

(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hari Lahir Pancasila: Jangan Biarkan Hanya Menjadi Seremoni

1 June 2026 - 16:34 WIB

FKBN Lamongan Gelar Retret Bela Negara Batch 2, Perkuat Nasionalisme Guru

18 May 2026 - 12:25 WIB

PPIH Bentuk Timsus Mina Antisipasi Kepadatan dan Lindungi Jemaah Lansia saat Puncak Haji

18 May 2026 - 11:05 WIB

Pertemuan Trump–Xi di Beijing dan Kebangkitan Diplomasi Korporat

18 May 2026 - 10:38 WIB

Pergi Haji: Ketika Panggilan Langit Menemukan Jalannya ke Hati Manusia

16 May 2026 - 14:53 WIB

Trending on Opini