Menu

Dark Mode
Perempuan Ditemukan Tergeletak di Jalan, Identitas Terungkap Pasca-Terima SK, Kesatuan Buruh Marhaenis Lamongan Siap Jadi Jembatan Aspirasi dan Tolak Regulasi Merugikan Buruh Debu Dolomit Kepung Permukiman, DLH Lamongan Turun Tangan Sengketa data Pertanahan Plosowahyu, Pemdes Tegaskan Pentingnya Kejelasan Status Pemohon Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu Dugaan Ulat di Menu MBG Kembangbahu, SPPG Lopang 2 Disorot

Berita Terkini

Idul Fitri Jadi Momentum “Kelahiran Kembali” bagi 446 Warga Binaan Lapas Lamongan

badge-check


					Idul Fitri Jadi Momentum “Kelahiran Kembali” bagi 446 Warga Binaan Lapas Lamongan Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com – Idul Fitri tahun ini tak hanya menjadi perayaan kemenangan spiritual bagi umat Muslim di luar tembok penjara. Di Lapas Kelas IIB Lamongan, hari raya justru menjelma menjadi simbol “kelahiran kembali” bagi ratusan warga binaan—sebuah momen ketika harapan perlahan menggeser stigma.

Ratusan warga binaan, laki-laki dan perempuan, memadati halaman lapas yang disulap menjadi ruang ibadah. Dalam balutan kesederhanaan, Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah berlangsung khidmat. Tak ada sekat sosial, tak ada label masa lalu—yang tampak hanya barisan manusia yang berdiri sejajar, mencari ampunan dan kesempatan kedua.

Warga Binaan Lapas Lamongan Dengan penuh hikmat dan seksama dalam mendengarkan Khutbah ketika melaksanakan sholat iedul Fitri kemarin, sabtu 21 maret 2026

Sholat dan khutbah dipimpin oleh Ustadz Slamet Makruf yang menggarisbawahi satu pesan penting: Idul Fitri bukan sekadar kembali ke fitrah, tetapi juga keberanian untuk berubah. “Momentum ini adalah titik balik, bukan hanya ritual tahunan,” tegasnya dalam khutbah.

Namun, peristiwa yang paling menyita perhatian terjadi usai doa-doa dipanjatkan. Sebanyak 446 warga binaan menerima remisi khusus Idul Fitri—sebuah angka yang bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari proses panjang pembinaan yang kerap luput dari sorotan publik.

Kepala Lapas Kelas IIB Lamongan, Hery Sulistyo, menegaskan bahwa remisi bukanlah hadiah instan, melainkan hasil dari konsistensi perilaku baik dan kepatuhan terhadap program pembinaan. “Ini adalah hak, sekaligus bentuk pengakuan atas perubahan yang mereka jalani,” ujarnya.

Menariknya, dalam narasi yang sering kali didominasi oleh sisi kelam lembaga pemasyarakatan, momen ini justru membuka perspektif lain: bahwa lapas bukan semata tempat hukuman, melainkan ruang transformasi.

Para peserta sholat jamaah iedul fitri bersujud kehadirat Alloh SWT dengan khusuk dan peneuh penyerahan diri dalam menyambut kehidupan baru yang lebih baik

Remisi yang diberikan kepada dua warga binaan secara simbolis menjadi wajah dari ratusan cerita serupa—tentang penyesalan, proses belajar, hingga harapan untuk kembali ke masyarakat dengan identitas baru.

Di tengah keterbatasan ruang gerak, Idul Fitri di Lapas Lamongan menghadirkan kebebasan dalam bentuk yang berbeda: kebebasan untuk memperbaiki diri.

Perayaan pun berlangsung tertib dan penuh kebersamaan. Petugas dan warga binaan larut dalam suasana yang hangat—sebuah gambaran bahwa kemanusiaan tetap hidup, bahkan di balik jeruji.

Di hari kemenangan ini, yang dirayakan bukan hanya berakhirnya Ramadan, tetapi juga dimulainya perjalanan baru—pelan, tapi pasti, menuju perubahan.(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Perempuan Ditemukan Tergeletak di Jalan, Identitas Terungkap

14 September 2026 - 02:09 WIB

Debu Dolomit Kepung Permukiman, DLH Lamongan Turun Tangan

12 September 2026 - 13:20 WIB

Sengketa data Pertanahan Plosowahyu, Pemdes Tegaskan Pentingnya Kejelasan Status Pemohon

21 August 2026 - 19:01 WIB

Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu

21 August 2026 - 03:22 WIB

Dugaan Ulat di Menu MBG Kembangbahu, SPPG Lopang 2 Disorot

20 August 2026 - 11:23 WIB

Trending on Berita Terkini