Menu

Dark Mode
PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA Hari Koperasi ke-79 Jadi Ajang Promosi Produk UMKM Lamongan ke Kancah Globa WPP Pusat dan Jawa Timur Tegaskan Komitmen Menangkan PPP di Pemilu 2029. Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life Meriah! Nobar Final Piala Dunia 2026 di DPD Golkar Lamongan Berhadiah Dua Ekor Kambing PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

Opini

Triliunan Berputar Di pemerintahan Daerah, Menelisik Jejak APBD Lamongan 2025

badge-check


					Triliunan Berputar Di pemerintahan Daerah, Menelisik Jejak APBD Lamongan 2025 Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com — Angka itu besar: Rp 3,2 triliun. Dalam dokumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Lamongan tahun 2025, nominal tersebut tampak menjanjikan. Ia seharusnya menjadi mesin penyelesai masalah publik—dari jalan rusak, layanan kesehatan, hingga krisis sampah yang tak kunjung reda.

Namun ketika lembar demi lembar anggaran dibedah, yang muncul justru pola lama: uang rakyat lebih banyak berputar di dalam sistem birokrasi ketimbang mengalir ke kebutuhan riil warga.

Jejak Anggaran: Besar di Atas Kertas

Penelusuran terhadap struktur belanja menunjukkan konsentrasi anggaran pada tiga sektor utama: pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Pendidikan: ± Rp 1 triliun

Kesehatan dan RSUD: ± Rp 500 miliar

PUPR: ± Rp 400 miliar

Sekilas, komposisi ini tampak ideal. Namun rincian di balik angka mengungkap cerita berbeda.

Di sektor pendidikan, sekitar 70–80 persen anggaran tersedot untuk gaji dan tunjangan. Artinya, hanya sebagian kecil yang benar-benar menyentuh peningkatan kualitas belajar atau perbaikan fasilitas sekolah.

Kondisi serupa terjadi di sektor kesehatan. Ratusan miliar rupiah lebih banyak habis untuk operasional rutin—bukan ekspansi layanan atau peningkatan kualitas yang langsung dirasakan pasien.

“Anggaran besar tidak identik dengan dampak besar,” ujar seorang pengamat kebijakan publik yang enggan disebut namanya.

Infrastruktur: Banyak Proyek, Minim Lompatan

Di tangan Dinas PUPR, ratusan miliar rupiah disebar ke berbagai proyek. Jalan lingkungan, drainase, hingga perbaikan skala kecil mendominasi.

Masalahnya bukan pada jumlah proyek, melainkan arah kebijakan. Pembangunan terfragmentasi, tanpa proyek strategis yang mampu menciptakan lompatan ekonomi atau konektivitas wilayah secara signifikan.

Akibatnya, anggaran besar terasa “habis di banyak tempat” tanpa dampak yang benar-benar terasa luas.

Sampah: Masalah Harian, Anggaran Pinggiran

Kontradiksi paling mencolok terlihat pada sektor lingkungan hidup.

Di tengah keluhan warga soal sampah yang belum tertangani optimal, anggaran untuk Dinas Lingkungan Hidup hanya berkisar Rp 50–70 miliar. Jumlah ini harus menanggung seluruh operasional—dari armada hingga pengelolaan tempat pembuangan akhir.

Perbandingannya timpang:

Rp 1.000 miliar untuk pendidikan,

sekitar Rp 60 miliar untuk sampah.

Padahal, persoalan sampah adalah problem harian yang langsung bersentuhan dengan kualitas hidup masyarakat.

Birokrasi: Anggaran Besar, Output Samar

Sorotan lain mengarah ke Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD.

Setda: ± Rp 200 miliar

Sekretariat DPRD: ± Rp 150 miliar

Sebagian besar digunakan untuk perjalanan dinas, rapat, dan tunjangan. Berbeda dengan pembangunan fisik, hasil dari belanja ini sulit diukur secara langsung oleh publik.

Di sinilah kritik menguat: ketika belanja birokrasi membesar, tetapi manfaatnya tak kasat mata, kepercayaan publik ikut tergerus.

Defisit yang Berulang

Masalah tak berhenti di situ. APBD 2025 mencatat defisit sekitar Rp 88,55 miliar.

Defisit ini bukan fenomena baru. Ia berulang dari tahun ke tahun—menjadi pola, bukan pengecualian.

Sinyalnya jelas:

Belanja tumbuh lebih cepat dari pendapatan

Ketergantungan pada dana pusat masih tinggi

Pendapatan Asli Daerah belum cukup kuat menopang kebutuhan

Bahkan, pemangkasan dana transfer pusat untuk infrastruktur—DAU dan DAK jalan—mempersempit ruang fiskal daerah.

Pola Lama yang Bertahan

Dari keseluruhan temuan, pola yang muncul konsisten:

Belanja pegawai dan operasional mendominasi

Belanja langsung untuk publik relatif terbatas

Sektor krusial seperti lingkungan kurang prioritas

Defisit menjadi kebiasaan

Ini bukan sekadar persoalan teknis anggaran. Ini soal arah kebijakan.

APBD: Antara Rutinitas dan Tanggung Jawab

APBD seharusnya menjadi kontrak sosial—janji pemerintah kepada rakyat. Namun dalam praktiknya, ia kerap berubah menjadi rutinitas administratif tahunan.

Triliunan rupiah dicatat, disahkan, lalu dibelanjakan. Tetapi pertanyaan mendasar tetap menggantung: berapa banyak yang benar-benar sampai ke masyarakat?

Jika sebagian besar anggaran terus berputar di dalam birokrasi, maka kesejahteraan hanya akan menjadi angka dalam laporan, bukan realitas di lapangan.

Pada akhirnya, persoalan APBD Lamongan 2025 bukan pada besar-kecilnya angka. Melainkan pada keberanian mengubah pola: dari membiayai sistem menjadi menyelesaikan masalah.

Sebab setiap rupiah dalam APBD bukan milik pemerintah. Ia adalah mandat publik—yang menuntut untuk diwujudkan, bukan sekadar dibukukan. (Red).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

16 July 2026 - 11:52 WIB

Ironi MBG, Niatnya Sederhana Jalurnya Berbelit-belit

7 July 2026 - 03:45 WIB

Ketua JMSI Jawa Timur: HUT Media Harus Berdampak bagi Masyarakat

4 July 2026 - 05:22 WIB

Lagi, Gagal Salip Truk Pemotor 19 Tahun Tewas

3 July 2026 - 15:13 WIB

Gagal Menyalip, Seorang Pemotor Tewas Kecelakaan

3 July 2026 - 13:14 WIB

Trending on Berita Terkini