Menu

Dark Mode
Perempuan Ditemukan Tergeletak di Jalan, Identitas Terungkap Pasca-Terima SK, Kesatuan Buruh Marhaenis Lamongan Siap Jadi Jembatan Aspirasi dan Tolak Regulasi Merugikan Buruh Debu Dolomit Kepung Permukiman, DLH Lamongan Turun Tangan Sengketa data Pertanahan Plosowahyu, Pemdes Tegaskan Pentingnya Kejelasan Status Pemohon Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu Dugaan Ulat di Menu MBG Kembangbahu, SPPG Lopang 2 Disorot

Daerah

Tradisi “Malam Songo” di Bojonegoro: 538 Pasangan Gelar Pernikahan di Malam ke-29 Ramadan

badge-check


					Tradisi “Malam Songo” di Bojonegoro: 538 Pasangan Gelar Pernikahan di Malam ke-29 Ramadan Perbesar

Bojonegoro, WartaNuswantara.com– Tradisi pernikahan pada malam ke-29 bulan Ramadan atau yang dikenal dalam budaya Jawa sebagai “malam songo“masih terus lestari di Kabupaten Bojonegoro. Pada Ramadan 1447 H tahun ini, tercatat sebanyak 538 pasangan melangsungkan akad nikah dalam satu malam, menjadikannya salah satu momen pernikahan massal terbesar dalam setahun.

Fenomena ini bukan hal baru bagi masyarakat Bojonegoro. Malam songo diyakini sebagai waktu penuh berkah, mendekati akhir Ramadan, sehingga banyak pasangan memilih melangsungkan pernikahan dengan harapan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Bojonegoro menyampaikan bahwa lonjakan pernikahan di malam songo selalu terjadi setiap tahun dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang kuat di tengah masyarakat.

“Tradisi malam songo ini sudah mengakar. Dalam satu malam, jumlah pernikahan bisa melonjak drastis dibanding hari biasa. Tahun ini tercatat 538 pasangan yang menikah, tersebar di seluruh kecamatan di Bojonegoro,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pasangan pengantin tersebar di berbagai kecamatan, dengan dominasi di wilayah padat penduduk seperti Kecamatan Bojonegoro Kota, Kapas, Dander, Balen, dan Kalitidu. Meski demikian, hampir seluruh KUA di tiap kecamatan turut melayani akad nikah pada malam tersebut.

“Setiap KUA melakukan pelayanan maksimal, bahkan ada penghulu yang harus melayani beberapa akad dalam satu malam. Ini menjadi tantangan sekaligus bentuk pengabdian kami kepada masyarakat,” tambahnya.

Secara kultural, malam songo juga menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar, diiringi suasana religius Ramadan. Prosesi akad biasanya dilaksanakan sederhana, namun sarat makna, sering kali digelar di rumah mempelai dengan dihadiri tokoh agama dan keluarga dekat.

Selain faktor kepercayaan terhadap keberkahan waktu, alasan praktis juga menjadi pertimbangan. Banyak keluarga memilih malam songo karena bertepatan dengan suasana libur menjelang Idulfitri, sehingga memudahkan kehadiran sanak saudara.

Tradisi ini pun mendapat perhatian khusus dari Kementerian Agama setempat, terutama dalam hal pengaturan jadwal penghulu agar seluruh pasangan tetap terlayani secara optimal dan sah secara administrasi.

Dengan tingginya angka pernikahan di malam songo, Bojonegoro kembali menunjukkan kekuatan tradisi lokal yang berpadu dengan nilai-nilai religius, sekaligus menjadi potret unik dinamika sosial masyarakat di bulan suci Ramadan.(Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Perempuan Ditemukan Tergeletak di Jalan, Identitas Terungkap

14 September 2026 - 02:09 WIB

Pasca-Terima SK, Kesatuan Buruh Marhaenis Lamongan Siap Jadi Jembatan Aspirasi dan Tolak Regulasi Merugikan Buruh

13 September 2026 - 06:27 WIB

Debu Dolomit Kepung Permukiman, DLH Lamongan Turun Tangan

12 September 2026 - 13:20 WIB

Sengketa data Pertanahan Plosowahyu, Pemdes Tegaskan Pentingnya Kejelasan Status Pemohon

21 August 2026 - 19:01 WIB

Dinkes Lamongan Dua Kali Evaluasi SPPG Kembangbahu

21 August 2026 - 03:22 WIB

Trending on Berita Terkini