Lamongan, WartaNuswantara.com – Sektor pertanian di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, masih menunjukkan kinerja produksi padi yang relatif tinggi. Namun, di balik capaian tersebut, petani kini dihadapkan pada tantangan meningkatnya biaya produksi serta indikasi penurunan kualitas lahan.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lamongan, pada 2024 luas panen padi tercatat sekitar 130,67 ribu hektare dengan total produksi mencapai 776,29 ribu ton gabah kering giling (GKG) atau setara 448,25 ribu ton beras. Angka ini menempatkan Lamongan sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur.
Meski demikian, secara tren terjadi penurunan. Produksi beras tercatat turun sekitar 2,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara luas panen menyusut sekitar 6,47 persen. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terkait keberlanjutan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Di lapangan, petani mulai merasakan perubahan kondisi lahan. Sutrisno (52), petani asal Kecamatan Laren, mengungkapkan bahwa kebutuhan pupuk kini meningkat dibandingkan sebelumnya.
“Dulu pemakaian pupuk tidak sebanyak sekarang, tapi hasilnya sudah cukup. Sekarang harus lebih banyak, tapi hasilnya tidak jauh berbeda,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Mujiono (47), petani dari Karangbinangun, yang menilai kondisi tanah saat ini mengalami penurunan kualitas.
“Kalau kering jadi pecah-pecah, kalau basah lengket. Tidak segembur dulu,” katanya.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah serta penggunaan pupuk kimia secara intensif dalam jangka panjang. Dampaknya, efisiensi pemupukan menurun dan biaya produksi semakin tinggi. Selain itu, serangan hama yang meningkat dalam beberapa musim tanam terakhir turut mendorong petani menambah penggunaan pestisida.
Di sisi lain, upaya adaptasi mulai dilakukan oleh sebagian petani. Slamet (45), petani di Babat, mengaku mulai mengombinasikan pupuk kimia dengan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah.
“Memang tidak langsung terlihat hasilnya, tapi tanah lebih mudah diolah,” ujarnya.
Penyuluh pertanian juga mendorong penerapan pola budidaya berkelanjutan, seperti pemupukan berimbang berbasis uji tanah, penggunaan pupuk organik, pengembalian jerami ke lahan, serta pengendalian hama terpadu (PHT).
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bakorda FKBN Kabupaten Lamongan, Ferry Fadli, menilai daerahnya kini berada pada fase penting antara menjaga produktivitas dan mempertahankan kualitas lahan.
“Produktivitas masih bisa dipertahankan, tetapi keberlanjutan sangat bergantung pada cara kita mengelola tanah hari ini. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Secara keseluruhan, sistem pertanian yang berkembang sejak era Revolusi Hijau telah memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi pangan di Lamongan. Namun, tantangan baru berupa degradasi lahan dan meningkatnya biaya produksi menuntut adanya perubahan pendekatan agar sektor pertanian tetap berkelanjutan di masa mendatang.(Red)
















