Menu

Dark Mode
PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA Hari Koperasi ke-79 Jadi Ajang Promosi Produk UMKM Lamongan ke Kancah Globa WPP Pusat dan Jawa Timur Tegaskan Komitmen Menangkan PPP di Pemilu 2029. Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life Meriah! Nobar Final Piala Dunia 2026 di DPD Golkar Lamongan Berhadiah Dua Ekor Kambing PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

Agro Sektor

Tren Hidup Sehat Dorong Lonjakan Permintaan Beras Organik di Indonesia

badge-check


					Tren Hidup Sehat Dorong Lonjakan Permintaan Beras Organik di Indonesia Perbesar

JAKARTA, WartaNuswantara.com – Kebutuhan beras organik di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat serta konsumsi pangan yang ramah lingkungan.

Berdasarkan berbagai kajian pertanian dan pangan, konsumsi beras nasional Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 30 hingga 32 juta ton per tahun. Namun dari jumlah tersebut, porsi beras organik masih tergolong kecil, yakni diperkirakan hanya sekitar 0,5 persen hingga 1 persen dari total konsumsi beras nasional.

Dengan perhitungan tersebut, kebutuhan beras organik nasional diperkirakan berada pada kisaran 150 ribu hingga 300 ribu ton per tahun. Meski demikian, angka tersebut diproyeksikan akan terus meningkat setiap tahun.

Peningkatan permintaan ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat, semakin banyak restoran dan hotel yang mulai menggunakan bahan pangan organik, serta permintaan ekspor beras organik yang terus bertambah.

 

Produksi Masih Terbatas

Di sisi produksi, ketersediaan beras organik di Indonesia masih tergolong terbatas dan belum sepenuhnya mampu memenuhi potensi pasar yang ada. Saat ini, sejumlah daerah telah menjadi sentra produksi beras organik, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan.

Beberapa daerah bahkan mulai mengembangkan konsep desa organik, yakni kawasan pertanian yang secara khusus menerapkan sistem budidaya organik untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Namun demikian, pengembangan pertanian organik masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan lahan bersertifikat organik hingga proses produksi yang memerlukan waktu lebih lama dibanding pertanian konvensional.

 

Peluang Pasar Sangat Menjanjikan

Meski produksinya masih terbatas, peluang pasar beras organik dinilai sangat menjanjikan. Salah satu faktor utama adalah nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding beras biasa.

Di pasaran, harga beras biasa berkisar antara Rp12.000 hingga Rp15.000 per kilogram, sementara beras organik dapat mencapai Rp25.000 hingga Rp40.000 per kilogram.

Kondisi ini membuat beras organik memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi petani. Selain itu, semakin banyak konsumen kelas menengah yang mulai beralih ke pangan sehat, sehingga permintaan terus meningkat.

Pasar ekspor juga membuka peluang besar, terutama ke negara-negara seperti Jepang, negara-negara Eropa, dan Amerika, yang memiliki permintaan tinggi terhadap produk pangan organik.

 

Tantangan Pengembangan

Meski memiliki potensi besar, pengembangan beras organik di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala. Beberapa di antaranya adalah produksi yang masih terbatas, biaya sertifikasi organik yang relatif mahal, serta masa konversi lahan yang memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.

Selain itu, distribusi dan pemasaran produk organik juga belum merata, sehingga akses pasar bagi petani organik di beberapa daerah masih terbatas.

 

Potensi Masa Depan

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian terus mendorong pengembangan pertanian organik di berbagai daerah. Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena ketersediaan lahan yang luas serta meningkatnya permintaan pasar global terhadap produk organik.

Sejumlah ahli bahkan memprediksi pasar beras organik di Indonesia dapat tumbuh sekitar 10 hingga 15 persen per tahun dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan potensi tersebut, sektor beras organik dinilai tidak hanya mampu meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Kesimpulannya, kebutuhan beras organik nasional saat ini diperkirakan mencapai 150 ribu hingga 300 ribu ton per tahun, dan diproyeksikan akan terus meningkat. Sementara itu, produksi yang masih terbatas justru membuka peluang besar bagi pengembangan usaha. (Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Ironi MBG, Niatnya Sederhana Jalurnya Berbelit-belit

7 July 2026 - 03:45 WIB

MBG Libur, Siapa yang Kelaparan?

22 June 2026 - 09:31 WIB

Kebangkitan Polandia Menjadi Kekuatan Baru Eropa.

16 June 2026 - 14:32 WIB

Hari Lahir Pancasila: Jangan Biarkan Hanya Menjadi Seremoni

1 June 2026 - 16:34 WIB

FKBN Lamongan Gelar Retret Bela Negara Batch 2, Perkuat Nasionalisme Guru

18 May 2026 - 12:25 WIB

Trending on Bela Negara