Menu

Dark Mode
PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA Hari Koperasi ke-79 Jadi Ajang Promosi Produk UMKM Lamongan ke Kancah Globa WPP Pusat dan Jawa Timur Tegaskan Komitmen Menangkan PPP di Pemilu 2029. Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life Meriah! Nobar Final Piala Dunia 2026 di DPD Golkar Lamongan Berhadiah Dua Ekor Kambing PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

Peristiwa

14 Tahun Menunggu, Pasutri Pedagang Ikan di Lamongan Berangkat Haji

badge-check


					14 Tahun Menunggu, Pasutri Pedagang Ikan di Lamongan Berangkat Haji Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com — Kisah sepasang suami istri pedagang ikan asal Desa Kemlagigede, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, menjadi potret ketekunan sekaligus cermin dinamika panjangnya antrean ibadah haji di Indonesia. Setelah menanti selama 14 tahun sejak pendaftaran, Mulyono (48) dan Wiwik Mujiyati (43) akhirnya berkesempatan berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

Selama puluhan tahun, keduanya menggantungkan hidup dari usaha jual beli ikan. Penghasilan yang tidak menentu tak menyurutkan niat mereka untuk menunaikan rukun Islam kelima. Sejak sekitar 2005, pasangan ini mulai menyisihkan sebagian kecil pendapatan harian—sebuah kebiasaan sederhana yang dijaga secara konsisten.

“Tidak harus besar, yang penting rutin,” ujar Mulyono, mengenang proses panjang yang dijalani bersama istrinya.

Upaya itu membuahkan hasil pada 2012, ketika mereka berhasil mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor porsi haji. Namun, sebagaimana jutaan calon jemaah lain di Indonesia, mereka harus kembali bersabar menunggu giliran keberangkatan yang bisa memakan waktu lebih dari satu dekade.

Sepasang pasutri bersiap menyiapkan bekal kelengkapan dalan menunaikan ibadah haji tahun ini 40 hari lebih perjalanan mereka di tanah suci, semoga menjadi Haji yang mabrur dan mabruroh Aamiin

Kisah Mulyono dan Wiwik tidak hanya tentang kerja keras individu, tetapi juga menggambarkan realitas sistem penyelenggaraan haji di Indonesia. Dengan jumlah pendaftar yang terus meningkat setiap tahun dan kuota terbatas dari Arab Saudi, masa tunggu panjang menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Di Jawa Timur, waktu tunggu haji bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan tahun, tergantung daerah pendaftaran. Kondisi ini menuntut calon jemaah tidak hanya siap secara finansial, tetapi juga secara fisik dan mental dalam menghadapi masa tunggu yang panjang.

Bagi sebagian kalangan, antrean panjang ini memunculkan pertanyaan tentang akses dan keadilan—apakah semua lapisan masyarakat memiliki peluang yang sama, atau justru kelompok ekonomi tertentu lebih diuntungkan melalui jalur-jalur khusus seperti haji plus.

Dengan kisah Di balik angka “14 tahun”, tersimpan perjalanan yang tidak sederhana. Mulyono dan Wiwik memulai usaha dengan berjualan keliling menggunakan sepeda motor tua. Hujan, panas, hingga fluktuasi harga ikan menjadi tantangan sehari-hari.

Kini, mereka telah memiliki lapak sederhana. Namun, perjalanan panjang tersebut meninggalkan pelajaran tentang arti disiplin dan pengorbanan.

Wiwik mengaku haru saat mengetahui kepastian keberangkatan mereka tahun ini. “Rasanya seperti mimpi yang akhirnya jadi nyata,” ujarnya.

Menjelang keberangkatan, pasangan ini telah mengikuti rangkaian manasik haji dan menjaga kondisi kesehatan. Persiapan tidak hanya dilakukan secara fisik, tetapi juga spiritual, mengingat ibadah haji menuntut kesiapan menyeluruh.

Di sisi lain, kisah mereka juga memunculkan refleksi lebih luas: bahwa ibadah haji bukan sekadar capaian finansial, melainkan perjalanan panjang yang melibatkan ketekunan, sistem sosial, dan kebijakan negara.

Mulyono berharap dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk serta membawa pulang keberkahan bagi keluarga. “Semoga sehat, lancar, dan pulang jadi haji yang mabrur,” katanya.

Cerita pasutri ini kerap dilihat sebagai inspirasi tentang kerja keras dan kesabaran. Namun di balik itu, terdapat lapisan lain yang patut dicermati—tentang bagaimana sistem antrean panjang membentuk pengalaman spiritual masyarakat, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi negara dengan jumlah calon jemaah haji terbesar di dunia.

Kisah Mulyono dan Wiwik pada akhirnya bukan hanya tentang keberangkatan ke Tanah Suci, tetapi juga tentang perjalanan panjang antara harapan pribadi dan realitas kolektif. (Red).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA

27 July 2026 - 04:05 WIB

Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life

20 July 2026 - 12:13 WIB

Ironi MBG, Niatnya Sederhana Jalurnya Berbelit-belit

7 July 2026 - 03:45 WIB

Lagi, Gagal Salip Truk Pemotor 19 Tahun Tewas

3 July 2026 - 15:13 WIB

Gagal Menyalip, Seorang Pemotor Tewas Kecelakaan

3 July 2026 - 13:14 WIB

Trending on Berita Terkini