Lamongan, WartaNuswantara.com – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Kabupaten Lamongan diisi dengan cara berbeda. Dewan Pimpinan Cabang Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (DPC Sarbumusi) setempat menggelar nonton bareng film Marsinah: Cry Justice sebagai sarana refleksi perjuangan buruh, Kamis malam (30/4/2026).
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Disnakertrans Lamongan itu dihadiri jajaran Forkopimda, tokoh agama, aktivis, mahasiswa, serta ratusan pekerja dari berbagai sektor. Acara diawali doa bersama untuk mengenang Marsinah, buruh perempuan yang meninggal dunia dalam perjuangan pada 1993, sekaligus mendoakan kesejahteraan pekerja dan keberlangsungan industri daerah.
Mengusung tema “Membangun Keadilan dan Solidaritas”, agenda ini menitikberatkan pada pendekatan kontemplatif dibandingkan aksi turun ke jalan. Ketua DPC Sarbumusi Lamongan, Nihrul Bahi Alhaidar, mengatakan bahwa dinamika gerakan buruh saat ini perlu diarahkan pada langkah yang lebih strategis dan berkelanjutan.
Menurutnya, sosok Marsinah tetap relevan sebagai simbol perjuangan hak-hak pekerja. Ia juga menyinggung penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional pada 2025 sebagai bentuk pengakuan negara terhadap sejarah perjuangan buruh di Indonesia.
“Melalui film ini, kami ingin mengingatkan generasi muda bahwa perjuangan buruh memiliki akar sejarah yang kuat. Ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi pijakan untuk memperjuangkan keadilan ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, peringatan May Day tidak semestinya hanya dipandang sebagai agenda seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat solidaritas dan nilai kemanusiaan dalam hubungan industrial.
Sementara itu, Ketua PCNU Lamongan KH Syahrul Munir menegaskan bahwa perjuangan buruh memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai keagamaan. Ia mencontohkan pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang konsisten membela kelompok marginal, termasuk buruh.
“Keberpihakan kepada buruh adalah bagian dari menjaga martabat kemanusiaan. Tanpa keadilan, kesejahteraan tidak akan pernah terwujud secara nyata,” katanya.
Pemutaran film berlangsung khidmat dan emosional. Sejumlah peserta terlihat larut dalam suasana, terutama saat adegan akhir yang menggambarkan perjuangan dan pengorbanan Marsinah.
Berbeda dengan peringatan May Day pada umumnya yang identik dengan aksi demonstrasi, kegiatan di Lamongan ini menjadi ruang refleksi bersama. Tanpa aksi jalanan, peserta memilih menghayati kembali sejarah perjuangan buruh melalui pendekatan edukatif dan spiritual.
Melalui kegiatan ini, Sarbumusi berharap kesadaran kolektif pekerja terhadap pentingnya keadilan dan perlindungan hak semakin menguat. Peringatan May Day pun tidak hanya menjadi simbol tahunan, tetapi juga momentum memperteguh komitmen memperjuangkan kesejahteraan buruh secara berkelanjutan. (Red).















