JAKARTA, WartaNuswantara.com. – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.600 per dolar AS tidak dapat disamakan dengan kondisi krisis moneter 1997–1998. Pernyataan itu disampaikan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5), di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap tekanan kurs rupiah.
Menurut Purbaya, pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh gejolak pasar keuangan dan tekanan global, namun fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih lebih kuat dibanding masa krisis 1998. Ia menilai kondisi saat ini berbeda karena Indonesia belum memasuki fase resesi dan pertumbuhan ekonomi nasional masih terjaga.
“Situasinya berbeda dengan 1997–1998. Saat itu terjadi kesalahan kebijakan dan Indonesia sudah lebih dulu mengalami resesi sebelum krisis sosial politik muncul,” ujar Purbaya.
Pemerintah, kata dia, kini mengambil langkah intervensi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, khususnya melalui penguatan pasar obligasi negara. Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia disebut telah mengaktifkan skema bond stabilization fund (BSF) guna menahan tekanan di pasar surat utang sekaligus meredam pelemahan rupiah.
Purbaya mengungkapkan intervensi di pasar obligasi mulai diperbesar sejak pekan ini setelah sebelumnya dilakukan dalam skala terbatas. Langkah tersebut dilakukan agar investor asing tidak melepas kepemilikan obligasi pemerintah akibat kekhawatiran penurunan harga surat utang yang dapat memicu capital loss.
Menurutnya, kestabilan pasar obligasi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pergerakan rupiah agar tidak semakin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.
Sementara itu, tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dalam perdagangan Senin siang. Berdasarkan pantauan pasar, mata uang Garuda sempat berada di kisaran Rp17.676 per dolar AS pada pukul 12.00 WIB, melemah sekitar 0,45 persen dibanding penutupan sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu posisi terendah rupiah sepanjang sejarah perdagangan valuta asing nasional.
Pelemahan ini bahkan melampaui level yang pernah tercatat saat krisis moneter 1998, ketika rupiah berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS. Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi ekonomi nasional saat ini masih terkendali dan berbagai instrumen stabilisasi terus disiapkan untuk menjaga kepercayaan pasar dan investor. (Red).
















