Menu

Dark Mode
PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA Hari Koperasi ke-79 Jadi Ajang Promosi Produk UMKM Lamongan ke Kancah Globa WPP Pusat dan Jawa Timur Tegaskan Komitmen Menangkan PPP di Pemilu 2029. Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life Meriah! Nobar Final Piala Dunia 2026 di DPD Golkar Lamongan Berhadiah Dua Ekor Kambing PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

Berita Terkini

Budaya Suroan di Tuban, Tradisi Turun-Temurun di Makam Sunan Bonang

badge-check


					Budaya Suroan di Tuban, Tradisi Turun-Temurun di Makam Sunan Bonang Perbesar

TUBAN, WartaNuswantara.com – Malam 10 Suro atau bertepatan dengan 10 Muharam menjadi salah satu momen yang paling dinantikan masyarakat Kabupaten Tuban. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat pesisir, tetapi juga menjadi simbol perpaduan antara nilai religius, sejarah, dan kebersamaan warga.

Sejak sore hingga menjelang malam, ribuan masyarakat dari berbagai pelosok desa di Kabupaten Tuban, bahkan dari luar daerah, berbondong-bondong menuju kawasan Masjid Agung Tuban dan kompleks Makam Sunan Bonang. Tujuan utama mereka adalah melaksanakan ziarah dan memanjatkan doa di makam salah satu anggota Wali Songo yang memiliki peran besar dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa, yakni Sunan Bonang.

Bagi masyarakat Tuban, Suro bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, melainkan momentum untuk memperbanyak ibadah, introspeksi diri, mempererat tali silaturahmi, serta mengenang jasa para ulama yang telah menyebarkan ajaran Islam. Suasana khidmat terlihat ketika para peziarah memadati area makam untuk membaca tahlil, doa bersama, dan memohon keberkahan kepada Allah SWT.

Seiring perkembangan zaman, tradisi Suroan di Tuban mengalami perkembangan yang semakin positif. Jika dahulu kegiatan lebih didominasi oleh ziarah makam, kini Pemerintah Kabupaten Tuban bersama Takmir Masjid Agung Tuban serta pengelola Kompleks Makam Sunan Bonang turut menyelenggarakan pengajian akbar yang menghadirkan ulama dan mubalig. Ribuan jamaah memadati kawasan Masjid Agung Tuban untuk mengikuti tausiyah, dzikir bersama, dan doa demi keselamatan bangsa serta keberkahan daerah.

Salah satu tokoh agama asal wilayah paling selatan Kabupaten Tuban, Gus Mughni, mengatakan bahwa tradisi Suroan telah menjadi agenda rutin masyarakat sejak puluhan tahun silam. Menurutnya, kemeriahan malam 10 Suro justru terasa lebih semarak pada masa lalu ketika akses transportasi belum semudah sekarang.

“Tradisi Suroan ini sudah menjadi agenda rutin setiap tahun. Bahkan tempo dulu suasananya lebih ramai. Masyarakat rela datang berbondong-bondong ke Tuban menggunakan angkutan umum, ada juga yang rombongan naik mobil bak terbuka hanya untuk berziarah ke Makam Sunan Bonang,” ujar Gus Mughni.

Ia menjelaskan bahwa malam 10 Suro memiliki makna yang sangat istimewa karena bertepatan dengan rangkaian Haul Sunan Bonang. Perpaduan antara tradisi budaya Jawa dan kegiatan keagamaan menjadikan malam tersebut sebagai salah satu peristiwa yang paling dinantikan masyarakat.

“Tradisi Suroan juga bertepatan dengan Haul Sunan Bonang. Jadi bisa dibayangkan betapa meriah sekaligus sakralnya malam 10 Suro bagi warga kami. Ribuan orang datang dengan niat beribadah, berziarah, berdoa, sekaligus menjalin silaturahmi. Tradisi ini bukan sekadar budaya, tetapi juga menjadi warisan spiritual yang harus terus dijaga dan dilestarikan,” tuturnya.

Selain menjadi kegiatan spiritual, tradisi Suroan juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Kehadiran ribuan peziarah setiap tahunnya meningkatkan aktivitas pedagang kaki lima, pelaku UMKM, usaha kuliner, jasa transportasi, hingga penginapan di sekitar kawasan wisata religi Sunan Bonang.

Budaya Suroan di Tuban menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai utamanya. Perpaduan antara ziarah, haul, pengajian akbar, silaturahmi, dan perputaran ekonomi masyarakat menjadikan malam 10 Suro sebagai salah satu tradisi religius terbesar di Kabupaten Tuban yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, sekaligus memperkuat identitas Tuban sebagai Bumi Wali yang kaya akan sejarah, budaya, dan nilai-nilai keislaman. (MasJe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PNM CABANG LAMONGAN BEKALI PELAKU UMKM IBU-IBU MEKAAR DENGAN PENGETAHUAN LEGALITAS USAHA DAN BRANDING PRODUK USAHA

27 July 2026 - 04:05 WIB

Mengubah Sampah Menjadi Nilai Ekonomi, PNM Dorong Pemberdayaan Nasabah Melalui Program Eco Life

20 July 2026 - 12:13 WIB

PNM Cabang Lamongan Bekali Calon Account Officer Lewat Orientation Basic Training

16 July 2026 - 11:52 WIB

Ketua JMSI Jawa Timur: HUT Media Harus Berdampak bagi Masyarakat

4 July 2026 - 05:22 WIB

Lagi, Gagal Salip Truk Pemotor 19 Tahun Tewas

3 July 2026 - 15:13 WIB

Trending on Berita Terkini