Probolinggo, WartaNuswantara.com – Aktivitas produksi layang-layang rumahan di Kota Probolinggo menunjukkan geliat ekonomi kreatif yang terus bertahan, terutama saat musim bermain layangan tiba. Dari sebuah rumah sederhana di kawasan Tajungan, RT 002 RW 008, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, usaha ini mampu menjangkau pasar hingga lintas daerah di Jawa Timur.
Usaha tersebut dijalankan oleh Rizkie Rachmat Hidayah (31) bersama istrinya, Husnul Hotimah (27). Keduanya memanfaatkan ruang di rumah sebagai pusat produksi sekaligus tempat pengemasan sebelum produk dikirim ke pelanggan.
Saat ditemui di rumah produksinya pada Senin (4/5/2026), Rizkie terlihat sibuk menyelesaikan beberapa pesanan. Ia mengerjakan seluruh proses produksi secara mandiri, mulai dari pemotongan bahan, perakitan rangka, hingga tahap finishing.
“Setiap hari kami produksi sekitar 20 sampai 50 layang-layang. Kalau pesanan sedang banyak, bisa sampai 100 unit lebih,” ujar Rizkie.
Produk layang-layang buatannya dipasarkan ke berbagai daerah seperti Lumajang, Jember, Pasuruan, Malang, hingga Surabaya. Ia menyebut permintaan cenderung meningkat saat musim kemarau dan menjelang berbagai lomba layang-layang.
Menurutnya, variasi produk menjadi salah satu daya tarik utama. Selain layangan sederhana untuk anak-anak, ia juga memproduksi layang-layang dengan desain khusus yang membutuhkan ketelitian lebih tinggi.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, mulai dari Rp1.000 hingga Rp25.000 per unit, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Sementara untuk layang-layang lomba, Rizkie mampu menyelesaikan sekitar 20 unit per hari dengan harga berkisar Rp7.000 hingga Rp25.000.
Tak hanya itu, ia juga menyediakan benang layangan dengan berbagai kualitas, mulai dari Rp2.000 hingga Rp200.000 untuk produk bermerk.
Rizkie mengungkapkan bahwa menjaga kualitas menjadi prioritas utama agar pelanggan tetap loyal. “Kami berusaha konsisten, baik dari segi bentuk maupun kekuatan rangka. Kalau kualitas terjaga, pelanggan biasanya kembali pesan,” katanya.
Sementara itu, Husnul Hotimah menambahkan bahwa usaha ini dijalankan sambil mengurus rumah tangga dan dua anak mereka. Meski demikian, keduanya mampu membagi waktu agar produksi tetap berjalan.
“Memang dikerjakan di rumah, tapi kami atur waktu supaya pesanan tetap selesai tepat waktu. Alhamdulillah sejauh ini lancar,” ujarnya.
Dengan jangkauan pemasaran yang terus meluas dan permintaan yang stabil, usaha layang-layang rumahan ini dinilai memiliki potensi untuk berkembang lebih besar. Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha ini juga mencerminkan ketahanan ekonomi skala mikro di tengah dinamika pasar. (Red).















