Menu

Dark Mode
KLASTERISASI OLAHAN HASIL LAUT MENJADI KERUPUK IKAN PT PNM MEKAAR Nihrul Bahi Al Haidar: Jangan Jadikan Sekolah Negeri Ladang Bisnis LKS Satresnarkoba Lamongan Ringkus Terduga Pengedar Sabu di Brondong 27 Tahun Berkarya, PT PNM Lamongan Menguatkan Peran, Menebar manfaat Bagi Masyarakat Pemulangan Jemaah Haji Indonesia Dimulai, Kemenhaj Ingatkan Larangan Membawa Zamzam dalam Koper Pembelian LKS di SD Negeri Jadi Sorotan, Dewan Pendidikan Lamongan Minta Diperketat

Pendidikan

Latihan Kesamaptaan di SMAN 1 Kembangbahu: Disiplin Fisik atau Arah Baru Pendidikan Karakter?

badge-check


					Latihan Kesamaptaan di SMAN 1 Kembangbahu: Disiplin Fisik atau Arah Baru Pendidikan Karakter? Perbesar

Lamongan, WartaNuswantara.com — Upaya penguatan karakter siswa melalui pendekatan fisik kembali mengemuka. Personel Babinsa Koramil 0812/05 Kembangbahu bersama aparat Polsek Kembangbahu menggelar pembinaan fisik dan kesamaptaan bagi sekitar 100 siswa di SMAN 1 Kembangbahu, Minggu (26/04/2026). Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pelatihan baris-berbaris, tetapi membuka diskursus lebih luas tentang arah pendidikan karakter di sekolah.

Dipimpin oleh Serda Devia Nur Kolis, latihan mencakup penguatan fisik dasar, kedisiplinan, hingga pembentukan mental. Dalam keterangannya, ia menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental bagi siswa yang bercita-cita masuk TNI, Polri, maupun sekolah kedinasan.

“Pembinaan ini bukan sekadar melatih fisik, tetapi juga menanamkan kedisiplinan dan mental tangguh sebagai bekal masa depan,” ujarnya.

Namun, di balik semangat pembinaan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana pendekatan semi-militer relevan dalam ekosistem pendidikan formal?.

Dalam perspektif pendidikan modern, pembentukan karakter tidak hanya bertumpu pada aspek fisik dan kedisiplinan struktural. Pendekatan pedagogi menekankan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial. Latihan kesamaptaan memang berkontribusi pada daya tahan tubuh dan kedisiplinan, tetapi tidak otomatis menjawab kebutuhan literasi kritis, kreativitas, maupun kemampuan problem solving yang menjadi tuntutan abad ke-21.

Kepala sekolah, Wantono Gono Putro, melihat kegiatan ini sebagai bagian dari penguatan kepercayaan diri siswa. Ia mengapresiasi sinergi antara aparat keamanan dan sekolah.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat, terutama dalam membangun mental dan kesiapan fisik siswa. Kami berharap ini menjadi motivasi bagi mereka dalam meraih cita-cita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi sekolah yang terbuka terhadap kolaborasi lintas sektor. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa kegiatan semacam ini terintegrasi dalam kurikulum pendidikan yang utuh, bukan berdiri sebagai program tambahan yang sporadis.

Sejumlah pengamat pendidikan menilai bahwa pendekatan disiplin ala militer memang efektif dalam membangun ketertiban dan kepatuhan, tetapi berpotensi mengabaikan dimensi dialogis dalam proses belajar. Pendidikan idealnya tidak hanya mencetak individu yang patuh, tetapi juga mampu berpikir kritis, berani berpendapat, dan adaptif terhadap perubahan.

Dalam konteks ini, latihan kesamaptaan bisa menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Ia perlu dipadukan dengan metode pembelajaran berbasis proyek, diskusi terbuka, hingga penguatan literasi digital agar siswa tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga tangguh secara intelektual.

Kolaborasi antara TNI, Polri, dan sekolah sejatinya menjadi potensi besar dalam membangun generasi berkarakter. Namun, penting untuk memastikan bahwa peran tersebut bersifat melengkapi, bukan menggantikan fungsi utama pendidikan.

Jika dikelola dengan tepat, kegiatan seperti ini dapat menjadi model pendidikan karakter kontekstual—menggabungkan kedisiplinan, nasionalisme, dan kesiapan fisik. Sebaliknya, tanpa kerangka pedagogis yang jelas, ia berisiko menjadi sekadar kegiatan seremonial tanpa dampak jangka panjang.

Kegiatan di SMAN 1 Kembangbahu menunjukkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya pembentukan karakter sejak dini. Namun, pekerjaan rumah terbesar dunia pendidikan tetap sama: bagaimana meramu pendekatan yang seimbang antara fisik, mental, dan intelektual.

Latihan kesamaptaan mungkin membentuk tubuh yang kuat dan disiplin yang tegas. Tetapi masa depan pendidikan Indonesia ditentukan oleh sejauh mana sekolah mampu melahirkan generasi yang tidak hanya siap diperintah, melainkan juga mampu berpikir, memimpin, dan menciptakan perubahan. (Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Nihrul Bahi Al Haidar: Jangan Jadikan Sekolah Negeri Ladang Bisnis LKS

5 June 2026 - 08:21 WIB

Satresnarkoba Lamongan Ringkus Terduga Pengedar Sabu di Brondong

4 June 2026 - 23:27 WIB

Pemulangan Jemaah Haji Indonesia Dimulai, Kemenhaj Ingatkan Larangan Membawa Zamzam dalam Koper

3 June 2026 - 23:10 WIB

Pembelian LKS di SD Negeri Jadi Sorotan, Dewan Pendidikan Lamongan Minta Diperketat

3 June 2026 - 22:42 WIB

Mas Wabup Bertemu Petani Sambeng, Bahas Antisipasi Kemarau dan Pupuk

3 June 2026 - 21:57 WIB

Trending on Berita Terkini