LAMONGAN , WartaNuswantara.com– Aktivitas pembangunan pabrik sepatu di Desa Bakalanpule, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan memunculkan keresahan di kalangan warga sekitar. Proses pemancangan tiang pondasi yang menggunakan alat berat dilaporkan menimbulkan getaran kuat hingga terasa di dalam rumah-rumah warga yang berada di sekitar lokasi proyek.
Sejumlah warga menyebut getaran tersebut terjadi berulang setiap kali alat pancang beroperasi. Kondisi itu memicu kekhawatiran terhadap potensi kerusakan bangunan rumah yang berada sangat dekat dengan area pembangunan.
Seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan dan hanya disebut dengan inisial SM mengatakan, getaran yang muncul saat proses pemancangan berlangsung cukup kuat hingga membuat perabot rumah bergetar.
“Setiap alat pancang dipukul, getarannya terasa seperti gempa kecil. Kami jadi khawatir kalau plafon runtuh atau tembok rumah retak,” ujar SM kepada wartawan, Jumat (13/3/2026).

proyek pembangunan pabrik sepatu PT Buildyet Indonesia di Desa Bakalanpule Kecamatan tikung yang memunculkan keresahan warga sekitar karena getaran yang dihasilkan ketika proses oenanaman tiang pancang
Menurutnya, kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh dirinya, tetapi juga oleh beberapa warga lain yang rumahnya berada di sekitar proyek. Mereka mengaku cemas apabila aktivitas pemancangan terus berlangsung tanpa ada kepastian perlindungan terhadap dampak yang mungkin timbul.
Keluhan tersebut, kata SM, telah disampaikan warga melalui Ketua RT dan diteruskan ke Pemerintah Desa Bakalanpule agar dapat difasilitasi komunikasi dengan pihak perusahaan yang mengerjakan proyek tersebut.
SM menuturkan, Kepala Desa sempat turun langsung ke lokasi proyek setelah menerima laporan warga. Dalam kesempatan itu, aktivitas pemancangan disebut sempat dihentikan sementara hingga ada kesepakatan antara warga terdampak dan pihak pelaksana proyek.
“Pak Kades datang ke lokasi dan sempat menghentikan sementara pekerjaan sampai ada kesepakatan dengan warga,” jelasnya.
Namun hingga kini, menurut SM, warga belum mendapatkan penjelasan rinci terkait bentuk tanggung jawab perusahaan apabila terjadi kerusakan pada rumah warga akibat aktivitas pemancangan tersebut.
“Katanya perusahaan siap bertanggung jawab, tapi bentuknya seperti apa kami belum tahu. Yang kami inginkan sebenarnya hanya kepastian dan rasa aman,” tambahnya.
Kepala Desa Bakalanpule, Sukisno, saat dikonfirmasi membenarkan adanya keluhan warga terkait getaran yang ditimbulkan dari aktivitas pemancangan pondasi proyek tersebut. Ia menyebut persoalan itu telah dibahas dalam pertemuan yang digelar di Balai Desa Bakalanpule.
“Sudah dilakukan musyawarah di balai desa. Intinya masyarakat bisa menerima dengan legowo. Jika nantinya ada kerusakan bangunan, pihak kontraktor siap bertanggung jawab,” kata Sukisno, Sabtu (14/3/2026).
Meski demikian, hingga saat ini belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai jumlah rumah yang berpotensi terdampak maupun mekanisme pertanggungjawaban yang akan diberikan oleh pihak perusahaan apabila terjadi kerusakan bangunan.
Dari informasi yang dihimpun, proyek pembangunan tersebut merupakan pabrik sepatu milik PT Buildyet Indonesia. Pantauan di lokasi menunjukkan jarak antara area pembangunan dengan permukiman warga hanya terpaut beberapa meter.
Saat dilakukan pengamatan, alat pancang terlihat tidak beroperasi. Namun aktivitas proyek masih berlangsung dengan sejumlah truk pengangkut material keluar masuk area pembangunan, sementara beberapa pekerja terlihat berada di lokasi.
Kondisi kedekatan antara proyek konstruksi skala besar dengan permukiman warga tersebut menjadi perhatian tersendiri. Warga berharap ada kejelasan dari pihak perusahaan maupun instansi terkait mengenai standar keamanan pembangunan, serta jaminan perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar proyek. (Red).
















